Pengalaman Pertama Stand up Comedy



Dulu sebelum negara api menyerang dan sebelum fenomena inflasi cabe-cabean dimana-mana, aku gak tau apa itu sebenarnya Stand up Comedy. Stand= berdiri, Comedy= Komedi (lucu). Jadi kalau digabung, komedi sambil standing. Iya, standing: Gerakan kepala dibawah dan kaki diatas lalu nempel di dinding (ini mau stand up atau jadi cicak di dinding sih?).

Waktu itu aku berpikir kalau stand up comedy adalah hal yang paling gampang lebih gampang dari pipis sambil lari. Karena, kalau sekedar buat lucu di depan, anak bayi telanjang sambil lari pun juga lucu. Aku belum tau kalau stand up comedy gak segampang yang aku pikirkan.

Pengalaman pertamaku stand up comedy, aku dapatkan pas di sekolah dan waktu itu pas lagi pelajaran bahasa inggris. Waktu pelajaran bahasa inggris, guruku yang ngajar dikelas sedang sibuk ngerjain tugas-tugas kuliah untuk S2 nya. Jadi, karena dia sibuk, dan kebetulan di sekolah juga ada event perlombaan yang cukup mengganggu ketenangan siswa dalam belajar, khususnya aku sendiri (padahal asal dikelas tidur). Guruku tersebut membebaskan kami untuk ngapain aja di kelas, tapi dengan satu syarat, jangan ribut.

Macam gak tau anak SMA aja. Dikasih kesempatan gak belajar sama guru di kelas, ya senang kalilah. Ibaratnya kayak ketemu Selena Gomez lalu diajak selfie. Padahal kalau di rumah asal izin mau ke sekolah sama emak selalu bilang, ‘Mak, Rizal mau pergi ke sekolah, doain belajarnya lancar, ya?

Iya, anakku,’ jawab emak dengan lembut dan nada penuh keibuannya.

Sampe sekolah, main gaplek.

Namanya juga anak SMA, baru 10 menit diem, udah recok lagi. Guru bahasa inggris pun ngerasa kalau rencananya membuat kami tenang dengan tidak belajar ternyata kurang efektif. Jadi, dia menyuruh kami buat siapa yang berani maju ke depan mau nyanyi, buat lucu, ngapain aja yang penting menghibur untuk maju ke depan.
Karena klen semua recok, mam nantang klen. Siapa yang berani maju ke depan buat ngehibur, mam kasih nilai 9 di raport.’

Mendengar kata-kata mam, laki-laki yang malas belajar bahasa inggris pun teriak kesenangan, ‘Hore......!!!!!’ karena gak perlu capek-capek belajar udah dapet nilai 9 di raport. Itu keren men... Suara teriakan kesenangannya kayak suara teriakan pasukan sparta yang ada di felem 300 pas ditanya “siapa kita?” dengan mantap mereka langsung ngejawab, ‘ WE ARE SPARTA....!!!!!!!’



Jujur aja, keren lho kalau dapet nilai bahasa inggris 9 di raport. Mungkin, kalau ditunjukin ke mamak, mamak bakalan stroke lalu geter-geter karena gak nyangka. Gak nyangka karena anaknya pintar bahasa inggris. Padahal kalau dirumah ditanya bahasa inggris “Pepaya” aja, gak tau. Mamak pun jadinya berhenti berpikir kalau dalam pelajaran bahasa inggris, kalau diajakin conversation, anaknya bukan cuman bisa bilang ‘Yas... yes... yas... yes... no’

Semua siswa yang ngerasa bisa menghibur walau bukan seorang penghibur, maju satu-persatu menuliskan namanya di daftar siswa yang pengen dapat nilai sembilan. Urutan daftar itu juga dijadikan sebagai nomor urut kami yang mau maju. Aku pun mendaftarkan namaku sebagai siswa terakhir.
Karena waktu itu aku pengen maju bawain stand up comedy, aku sengaja daftarkan namaku di daftar terakhir. Penampilan terakhirkan selalu yang ditunggu-tunggu dan penampilan yang terakhir itukan biasanya keren. Padahal kenyataanya, tidak sama sekali.

Sambil menunggu giliran dipanggil, aku pun membuat materi stand up tentang fenomena lucu apa yang baru-baru ini terjadi. Oh iya, waktu itukan JKT48 baru datang konser ke Medan, dan waktu konser aku nampak ibuk-ibuk tua bangka yang udah gak layak nonton konser tiba-tiba girang nengok SPG Indosat (salah satu sponsor konser) bertubuh dan berwajah cantik yang dikiranya Nabilah. Entah matanya picek atau katarak, ibu itu langsung mengajak SPGA tersebut buat grovie sambil monyong-monyongin bibir yang bau minyak dewi jun-jung. Dan satu lagi materi yang mau aku bawa itu, materi tentang kebodohan dan keapesan seorang siswa dalam menentukan jawaban lembar ujian dengan menggunakan sebuah resletting celana yang ditarik-tarik.

Aku pun menunggu dengan sabar semua siswa yang tampil. Ada temen yang nyanyi, padahal suaranya kayak badak mau mati. Ada juga yang baca puisi, bermain akting, dan ada yang mati karena keringet dingin lalu di kipasin. Oke, yang terakhir itu bohongan.

Akhirnya, sampai juga pada nomor urut terakhir. Namaku langsung dipanggil. Dengan melangkah mantap ke depan kelas, aku berpikir kalau inilah cikal-bakalku bakalan menjadi seorang siswa yang terkenal di sekolah sebagai stand up comedy dan punya banyak pacar dari adek kelas.

Akupun berdiri di depan kelas buat stand up comedy.

Lebih tepatnya, stand up malu-maluin diri sendiri.

Lebih tepatnya lagi, malu-maluin diri sendiri karena stand upnya garing.
Aku langsung menyampaikan bit pertamaku, kedua, ketiga, seterusnya... dan ternyata
GAK ADA YANG KETAWA!
HANJERRRRRRRRRRR

Aku shock, bingung dan ling-lung mau ngapain. Rasanya aku pengen akting lalu pura-pura mati, tapi aku lupa, aku kan gak sekolah akting. Bukannya ketawa, yang lain malah pada khusyuk dengarin. Mungkin, aku dikira khotib yang lagi khotbah di depan kelas. Kamfret. Suara teriakan yang lebih buruk dari sangkakala akhirnya terdengar... ’Huuu...!!! gak lucu, garing kau, garing! Mending turun aja, bikin semak kau hahahah atau kalau gak mau turun, kami bakar... bakar...bakar...bakar!!!’ Gak ada pilihan lain, akupun turun daripada hangus dibakar massa.

Sampe di tempat duduk, aku cuman bisa tertunduk lemas dan masih gak nyangka. Orang yang terkenal dengan semua kelucuannya, pas maju ke depan kelas buat stand up comedy, bukannya lucu malah garing. Mulai darisini aku tau, kalau stand up comedy gak semudah yang dibayangkan. Sebelumnya aku mengira kalau berdiri di depan semua penghuni sekolah buat ngelucu adalah hal yang gampang dan biasa. Nyatanya, baru berdiri di depan kelas, lututku gak berhenti bergetar, keringat dingin, napas ngos-ngosan, lobang hidung kempas-kempis (ini lagi berdiri atau lagi sakaratul maut sih?), ternyata aku demam panggung.
**
Waktu mungkin jawaban yang terbaik untuk semua hal memalukan yang telah aku alamin kemarin. Setelah aku berdamai dengan masa lalu, akhirnya aku bisa belajar kembali untuk lebih meningkatkan kualitasku menjadi sekorang komika stand up comedy.

Semenjak insiden garing itu, dikelas aku gak berhenti buat terus-terusan nonton stand up comedy di yutub. Dengan smartphone kesayangan dan koneksi internet haram hasil curian dari handphone kawan lalu dibuat jadi hotspot, aku seaching jagoan-jagoan stand up comedy. Muncullah nama: Raditya Dika. Aku langsung meng-click videonya dan melihat bagaimana cara dia stand up comedy.

Absurd, sumpah, keren abis! Stand up mas Radit, membuatku tertawa terbahak-bahak selama menonton. Ternyata, dia stand up dengan menceritakan semua pengalaman absurdnya dalam hidup. Mulai dari bokap yang selalu punya cara ajaib, nyokap yang selalu lebay dalam memenuhi keinginan anaknya, sampe kucingnya “Alfa” yang doyan backstreet dengan kucing garong tetangga pun dimasukkan jadi materi. Lalu dia membalut semua materi tersebut dengan teknik penyampaian yang baik.

Aku langsung searching apa saja teknik-teknik dalam stand up comedy, seperti: analogi, act out, rule of three, pokoknya masih banyak lagi. Kalau aku ingat satu-satu, mungkin bisa membuatku migran sambil ngeluarin darah dari burit.

Setelah aku tau semua teknik dan gaya yang dipake Mas Radit dalam stand up comedy, muncul pertanyaan di dalam benakku. ‘Apakah aku harus stand up comedy dengan mengikuti gaya raditya dika?’

Hening.

Yang buat Stand up Comedy itu lucu, selain teknik penyampaiannya, dan materi nya yang lucu, karakter atau ciri khas seorang komika itu sendiri juga bisa jadi senjata utama untuk menghasilkan sebuah adegan lucu. Raditya Dika lucu karena bawa materi tentang keluarganya yang absurd. Masa` nanti pas ada event buat stand up comedy aku maju, lalu menyampaikan pengalaman keluargaku yang absurd walau sebenernya gak absurd, tapi aku coba untuk absurd-absurd-in biar bisa lucu kayak Raditya Dika. Yang ada bukannya lucu, tapi malah dikutuk jadi batu sama emak kalau dia denger aku absurd-absurd-in.

Niat meniru karakter stand up comedy orang lain, aku batalkan.
Aku pun mulai mencari lagi di internet apa yang bisa membuat stand up comedy bisa lucu. Tiba-tiba aku nemu nama pemenang stand up comedy season 2, yaitu: Ge Pamungkas. Aku langsung buka yutub nengok vidio-vidio stand upnya. Bener ajasih, dia bener-bener lucu. Tapi mas Ge, (dibaca GE bukan GAY) dia stand up tidak selalu mengandalkan segi tekniknya, melainkan, sepertinya dia masuk dan merasakan (fell-nya) setiap kalimat yang dia ucapkan. Jadi, bisa dibilang, dia selalu meresapin dan membuat materi itu benar-benar lucu.

Apalagi, pas aku stalking akun twitternya dan membuka link yang ada di profilnya. Ternyata, itu link blog pribadinya. Aku kepoin semua tulisannya di blog , sampe tiba-tiba aku terkejut dan senyum-senyum sendiri dengan postingan yang judulnya: “Fack Skill, It just Fell”

Mas Ge (Lagi-lagi dibaca GE, ya, bukan GAY) dia bilang disitu: dalam stand up comedy, jangan memprioritaskan teknik menjadi nomor satu. Tapi, materi yang bagus dan luculah yang harus jadi nomor satu. Memangsih, dengan semua teknik tersebut bakalan membuat materi terlihat lebih berwarna—lucu sih belom tentu, tapi yang pasti berwarna. Ibaratnya gini, sekeren-kerennya jurus (teknik), tapi materinya gak lucu, sama aja. Keren sih, iya. Tapi kalau seorang komik gak lucu, keren, gak kira-kira? Analoginya gini: Buat apa Naruto bisa jurus ransengan atau seribu bayangan, tapi kalau pas dia mau ngeluarin jurus, tiba-tiba pinggulnya encok, pegel linu, reumatik, sampe gak bisa jalan. Sama aja jurusnya gak bakalan terjadi. Gitu juga, dengan stand up comedy. Buat apa teknik banyak-banyak, kalau akhirnya materinya gak lucu dan berakhir garing.

Berkat tulisan mas Ge, iya dibaca GE, bukannya GAY. Aku jadi tau apa kesalahanku dulu pas stand up comedy. Materiku gak lucu, tekniknya kurang, pokoknya hari itu aku maju stand up comedy dengan polos alias kosong. Kayak makan indomie. Berharap bisa masak persis kayak yang ada disampulnya lengkap dengan ayam, telor dan daun sere yang terlihat menyedapkan, tapi, pas aku yang masak, dirumah cuman ada indomie, yaudah deh aku rebus dan masak, pas jadi, yah... indomie polos tanpa ayam dan telor. Miris.

Sejak itu aku rajin buat materi-materi lucu sambil berharap event stand up comedy diadakan lagi, walau hanya diadakan dikelas, di kompleks, atau di lingkungan sekolah supaya aku bisa mengikutinya lagi.
Sampe akhirnya.
Ada acara stand up comedy di kompleks rumah. Bukan kontes atau semacamnya, tapi cuman sekedar panggung buat lucu-lucuan. Aku dan kawanku Gembul pun daftar untuk mengikuti. Jam terbang Gembul dalam stand up comedy, lebih banyak dibanding denganku. Di sekolah dia udah dikenal sebagai salah satu komik disekolahnya. Gembul lebih senior daripada aku. Berbeda denganku. Ini adalah kali kedua aku ikut stand up comedy.
Aku menunggu semua peserta yang maju sambil saling menggenggam kedua tanganku karena grogi. Akhirnya MC memanggil namaku. Aku pun maju sambil berdo’a, seandainya lucu, ini bonus karena aku udah berusaha untuk menjadi komika yang baik. Tapi, kalau gak lucu, aku berdo’a semoga gak ada yang ngelemparin batu.

Oke, disinilah aku. Diantas panggung buat stand up comedy. Tanganku bergetar saat memegang stand mic yang disediakan. Dengan semua ke-nervousan yang ada di dalam diri, aku menghembuskan nafas pasti dan membuangnya jauh-jauh, lalu langsung membukanya dengan sebuah salam, ‘Assalamu`kum warahmatullahi wabarakatuh...’ Semua penonton yang ada di depanku, menjawabnya dengan antusias. Dari tatapan mata mereka terlihat jelas seakan-seakan berbicara padaku: ‘Awas... kau ya, kalau sampe gak lucu. Kalau gak lucu, kami lemparin batu!’

Dengan perasaan yang rilex, santai, aku menyampaikan semua materi yang aku miliki. Materi ini menceritakan pengalamanku saat menjadi seorang santri di pesantren. Mulai dari pernah dibotakin berjama`ah, lalu pas keluar asrama malem-malem ditereakin tuyul sama adek kelas yang lihat. Sampe pengalamanku manjat tembok untuk cabut pesantren, lalu kakiku terperosok masuk ke kuburuan orang. Karena tembok yang aku panjat, belakangnya semua kuburuan. Ngeri, kan? Itulah anak pesantren. Lebih tepatnya, Anak pesantren gagal.

Semua penonton tertawa. Ada yang ketawa terbahak-bahak ada yang senyum-senyum najong, bahkan ada yang ketawanya maksa. Yang ketawanya maksa itu adalah keponakanku sendiri. Sebelum manggung, dia aku suruh ketawa saat aku nanti naik pentas, kalau sampe gak ketawa, dia gak bakalan aku belikan lagi coklat choki-choki.

Akupun turun panggung dengan semua tertawaan penonton yang puas, puas akan semua kekonyolan yang aku sampekan dengan penuh rasa tolol dan idiot. Hari itu aku bener-bener puas dan sangat bersyukur, bersyukur karena gak jadi dilemparin batu.

Banyak pelajaran yang aku dapatkan dari stand up comedy. Mulai dari gak bisa sama sekali, sampe akhirnya bisa, walau cuman di lingkungan kompleks. Masih banyak lagi pelajaran yang aku dapatkan dari stand up comedy. Stand up comedy bukan masalah teknik atau materi, tetapi bagiku stand up comedy adalah sebuah panggilan hati.
Previous
Next Post »

45 komentar

Write komentar
Rofi Ilham
AUTHOR
Friday, 05 June, 2015 delete

Kau memang cocok dengan nama blogmu, bro! Tamvan dan Berani. #Respect

Reply
avatar
i Jeverson
AUTHOR
Friday, 05 June, 2015 delete

wahahaha, pengalaman berharga banget yak bro. awalnya nganggep remeh, kirain gampang standup. sekali coba, suasana hening. hahahaahahahahahahahaha :"))))
tapi semenjak pristiwa hening satu kelas itu, membuat lo jadi lebih rajin nonton stand up dan belajar tentang comedy. itu bagus, lanjutkan!

Reply
avatar
Sunday, 07 June, 2015 delete

masih mening bang ya gue di sangka orang gila wkwkkwkw :)

Reply
avatar
Sunday, 07 June, 2015 delete

Thanks bro, bener nama itu memang kurasa cocok hahaha

Reply
avatar
Sunday, 07 June, 2015 delete

hahah makasih jev. gara-gara sering nonton tand up uang jadi cepet abis dan terpaksa mesti jual ginjal buat beli paket internet

Reply
avatar
Sunday, 07 June, 2015 delete

Wah... itu masih mendinga. Orang gila kan lucu, lah aku dikira khotib yang lagi ceramah jum'at

Reply
avatar
Tuesday, 09 June, 2015 delete

Keren. Lanjutkan. Entah kapan aku bisa berani open mic. Meski banyak temenku yg ngajakin tapi aku belom berani buat naik panggung. (Y)

Reply
avatar
Muhammad Afif
AUTHOR
Wednesday, 10 June, 2015 delete

Kalo stand up comedy an itu perlu public speaking yang manteb, gak gugup kalo di depan publik, apalagi ini kita ngelucu. Gue mah berdiri di depan kelas aja udah gugup. Btw, itu orang cuma diam dan gak ketawa bikin sakit hati yak wkwk :v

Tapi kalo nonton stand up comedy gue suka! :D

Reply
avatar
Wednesday, 10 June, 2015 delete

hobi gue juga nih bro stand comedy, salah satu ajang bakat yang sedang gue kembangkan. dulunya gue juga gitu, menganggap bahwa stand comedy itu mudah, dan dengan pd nya dulu gue ikut lomba stand up disekolah pada saat bulan bahasa. dan hasilnya ada yang pecah, tapi begitu ditengah, mulai dah suara jangkrik bertebaran. tapi gue tetep nggak putus aa dan terus ngembangin hobi gue yg satu ini

Reply
avatar
Ara AnggARA
AUTHOR
Wednesday, 10 June, 2015 delete

pengalamnnya keren, niat banget kayaknya ya sampe searching di google dan yutube soal stand up.

ane sh pastinya grogi tuh

Reply
avatar
Wednesday, 10 June, 2015 delete

Coba deh nonton Stand Up Comedy yg di Kompas TV dari season 1 sampe sekarang (season 5). Ada banyak komika keren. Kalo kata Raditya Dika sih intinya kamu harus original, punya ciri khas.

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

Aku ingetnya kata mam itu artinya makan, soalnya si gadis permen sering bilang begitu :v

Ciye,, yg sekarang udah bisa standup comedy. Emang usaha keras itu tak akan menghianati :') btw ibu-ibu tadi bisa kali jadiin admin fanbase nabilaholic di medan. Siapa tau kaya jadi bisa ngevote nabilah habis-habisan pas sosenkyo.

Yang paling aku salut tuh keberanian pas maju, aku ngerasa gimana gitu kalo maju tampil solo. Semoga hobi baru ini mendatangkan hal-hal baik buat kamu ya, ganbarena!!

Reply
avatar
muhammad erdi
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

emang ya, kendala jadi komik itu adalah garing pas kita udah beres nyampein semua materi.
tapi saya salut bro, akhirnya kamu bisa, jadi lucu di depan warga komplek dan di depan ponakanmu walaupun terpasksa dia ketawanya. hahaha

Reply
avatar
Doni Jaelani
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

wiih kayaknya pecah nih yang stand up di komplek itu

Iya emang banyak banget teknik di stand up comedy, sebenarnya teknik itu penting sih menurut gue karena itu basic. Kaya ngerti set up punchline, itu kan bener bener dasar yang harus diketahui sama komik yang mau stand up

Reply
avatar
eM Fi
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

wah bisa ikutan stand up commedy n berani aja udah keren loh
lucu ga lucu lan yg penting niatnya melucu :D

soalnya q juga kagum tp ga beerani
bisa kencimg berak duluan diatas panggung :D

Reply
avatar
Vindy Putri
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

Banyak stand by lagi. Hahaha..., kalau aku jadi kamu pas ngelucu nggak ada yang ketawa mungkin darah dah naik ke ubun-ubun. Muka merah kaya udang rebus bumbu telor asin. Enak kayanya Yumm...

Reply
avatar
Lulu Andhita
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

Seru juga ya pengalaman buat jd komika, butuh usaha keras jg trnyata buat bikin org yg dgrinnya pada ketawa (secara ikhlas tanpa dipaksa haha)

Saya sendiri suka banget nnton acara stand up comedy, tp gak prnah mikir kalo trnyata jd komika itu butuh teknik jg.. Susah ya kayaknya? Tekananannya itu harus berani tampil didepan org banyak dan harus lucu juga.

Btw, ttep semangat ya belajar jd komika nya! Hehe.. Nanti kalo muncul di tv bilang2 loh ya! Haha

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

Kalo pengen lebih bagus lagi gabung lah sama anak2 SUC medan bro. Pasti mereka welcome kok sama kamu. Lagi pula udah bisa bikin materi sendiri itu udah bagus, setidaknya masih bisa dipoles lg kalo rajin openmic. Semangat!!

Reply
avatar
Rizaldi Aziz
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

Weh keren yak... ngakak gue bacanya :v jdi kepengen juga buat stand up comedy :3 tpi gue kgak berani buat mendengar suara krik krik krik di atas panggung :v gak kebayang dah kalo gitu.. klo beneran terjadi mungkin gue bakal loncat dari panggung terus pura-pura kesurupan :3

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

open mic emang gak gampang. Kecuali kalau situ punya tampang bulliablle, mau ngapain aja pasti lucu hha

niat banget ya, ampe nyari seluk beluknya stand up hhe

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

open mic emang gak gampang. Kecuali kalau situ punya tampang bulliablle, mau ngapain aja pasti lucu hha

niat banget ya, ampe nyari seluk beluknya stand up hhe

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

gue salut sama lo, yang udah memberanikan diri untuk open mic, ya walaupun awal-awal dalam usahanya, stand up lo dibilang garing dan gagal, tapi lo terus berusaha untuk bisa menampilkan stand up yang baik dan bisa membuat orang ketawa dengan kelucuan yang lo bawakan, semangat terus bro, dan tebarkan kecerian orang-orang dangen kelucuan yang kita bawakan. :)

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

maju aja, kalau gak berani yah... diberani-beraniin.
karena kalau gak sekarang, kapan lagi?

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

bener juga. Iyasih kalau gak ada yg ketawa bukan sakit hati, tapi malunya setengah mati

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

hahaha iya ngebet kali aku pengen jadi komika apalagi yg bisa tampil di TV.

Grogi sih wajar, orang namanya manusia setiap pertama kali maju pst grogi

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

Iya, kita harus punya ciri khas atau brand name kalau gak salah.

Srring nonton juga tp dr yutub, stan up season 4 sama 5 kayaknya kurang lucu lah soalnya yah... lawakannya gak masuk aja gitu

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

please man... aku jd gagal move on :(

mungkin sih, ibuk-ibuk tuh kayaknya jd admin fanbase deh ahhaha
oke, semoga ajaya #GanbaRena!

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

hahaha itu karena disogok kalau gak disogok, mungkin dia gak nonton

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

kalau set up punch line kayaknya emang penting sih. Tapi, walaupun jd basic gak melulu kita make semua itu teknik kalau duh maju. yg penting materinya kalau udh lucu, pasti gk make teknik pun lucu hehehe

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

bener juga nih!
lucu gak lucu yg penting niatnya mau ngelucu walau endingnya harus di lemparin batu

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

iya, enak kayaknya... ummm

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

wah ini nih yang komennya paling mantep!
di do'ain masuk TV heheh makasih ya. jangankan ngasih tau ngasih duit juga mau kalau udh masuk TV hahaha

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

SUC medan tempatnya jauh. kalau mau kumpulpun susah malah entar pulangnya di begal :(

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

ide bagus tuh!
kalau gak lucu lompat baru pura-pura kesurupan, kayaknya bisa kutiru deh

Reply
avatar
Thursday, 11 June, 2015 delete

kalau akusih, gak tampang bulliable tapi mesumable

Reply
avatar
Aldi Rahman
AUTHOR
Thursday, 11 June, 2015 delete

emang stand up comedy itu nggak mudah, kalo garing itu pasti rasanya nyesek banget, gua pernah liat orang bawa stand up comedy nggak lucu, dalam hati gua, "Aduh pasti malu banget tuh, rasanya pengen cepet-cepet turun." Tapi ya namanya pengalaman pertama, pasti menjadi pengalaman yang berharga, intinya banyak-banyak latihan aja :)

Reply
avatar
Friday, 12 June, 2015 delete

Mantap jal, dari awalnya yang nggak ada ketawa sama sekali akhirnya lu berani bangkit dan nyari nyari tentang stand up. Keren banget lu bisa niat gitu buat jadi komika yang pro. Semoga bisa kesampaian lah, bisa nampil di TV juga.

Terus belajar jal biar jadi komika yang pro kayak yang di TV itu. Kali aja lu berhasil, nanti kalo udah terkenal jangan lupa kenalin aku ke Nabilah ya.

Reply
avatar
Friday, 12 June, 2015 delete

Iya, stand up comedy mah jangan terlalu mikirin teknik, nanti gak fokus sama materinya dan lupa kalo kita lagi mau ngebuat penonton ketawa.

Tapi kalo lu mai belajar sama komik yang make teknik dan lucu, menurutgue sih nonton aja jui purwoto. :3

Reply
avatar
Ngurah Dimas
AUTHOR
Friday, 12 June, 2015 delete

Guru Bahasa Inggris gue juga gitu. Kita bebas ngapain aja, yang penting jangan ribut.

Stand Up yaak? Gue gak jago ngolah materi. Gue gak berani. Takutnya entar malah garing. Tapi, gue pernah pidato Bahasa Inggris di depan orang banyak. Hahaha. Setidaknya, ada yang gue bisa.

Stand up kayak gitu emang banyak banget teorinya. Blog gue itu genrenya komedi. Kaget gue pas googling dan ngebaca banyak artikel soal teori-teori dalam ngelawak.

Tapi untung pas stand up lagi, lo berhasil kak. Hahaha. Selamat yaa selamat :D

Reply
avatar
Tuesday, 16 June, 2015 delete

gue nggak berani nyoba tampil di depan audiens buat ngelucu. soalnya candaan gue takut garing soalnya takut garing ajah sih, dan akhirnya ngebom.. haha

gue lebih suka nikmatin ajah ketimbang nyoba sendri, gue ngeblog ajah udah haha

Reply
avatar
Wednesday, 17 June, 2015 delete

Suatu hal yang terasa gampang ternyata setelah percobaan pertama belum berhasil.
Kalo udah gini sesuai dgn kata pepatah gagal adalah keberhasilan yang tertunda. Asalkan kegagalan itu menjadi pemacu utk berlatih stand up comedy dgn baik . Seperti taktik irit yang kamu lakukan dgn belajar via yutub numpang di hotspot teman. Ucapin makasih n kasih coklat buat temenmu itu ...juga si.adek yg ketawa maksa.

Reply
avatar
Monday, 22 June, 2015 delete

Ih gilak, enak amat jadi murid guru bahasa Inggris lo, masak cuman mau maju aja langsung dikasih nile 9 di raport, gue juga mau dooong..tapi gue sebagai guru bahasa Inggris nggak setuju tentang hal itu *lhoh

nah, kaaan..malah justru karna nggak lucu lo jadi terpatik buat belajar mati matian sampe buka2 utub dan cari tahu teknik teknin stand up..berarti kegagalan lo itu menggiring lo ke usaha keras untuk menjadi lebih baik. Aseeek...

Reply
avatar
phendol elex
AUTHOR
Saturday, 18 February, 2017 delete

orang langka kayag ente harus selalu dilestarikan , intinya ngelawaak itu ga mudah gan tapi sensasinya tiap orang belum tentu bisa dapetinnya soalnya jarang yg bsa stand up

Reply
avatar