Dua Hari Penuh Penyiksaan


Hari Pertama

Lokasi: Taman Wisata Alam Wira Garden

Beberapa hari yang lalu gue baru selesai MAKRAB (Malam Keakraban). Bagi mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan Himpunan, Makrab menjadi hari yang paling dinanti-nanti. Kalau dengar kata Makrab yang ada dipikiran gue; camping di hutan, mandi sungai, buat api unggun, dan nyanyi-nyanyi.
Untuk mengikuti MAKRAB kakak tingkat memberi syarat ataupun spek yang wajib dibawa. Semua syarat ataupun spek yang ditentukan oleh kakak tingkat untuk makrab semuanya udah gue siapin. Bahkan, peralatan ataupun spek yang gak disuruh bawa tetap gue bawa.
Sehari sebelum berangkat, kakak tingkat memberi bocoran dimana tempat yang akan dijadikan lokasi MAKRAB. Karena gue orangnya penasaran, gue searching aja di google lokasinya. Pas gue lihat, gue langsung mangap, kegirangan, karena yang gue lihat lokasinya berada di dalam hutan buatan yang dikekelilingi sungai yang deras dan pemandangan tebing yang bagus. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki darah petualangan yang tinggi (meski kalau lagi jalan-jalan gak make kaos “My Trip My Adventure” sambil nulis kata-kata dikertas) gue langsung ngerencanain petualangan yang ingin gue lakuin selama di lokasi MAKRAB.
Besoknya.
Kami semua berbaris menunggu bus dan kakak tingkat yang lain. Sambil menunggu bus, satu persatu kakak tingkat mengecek spek yang wajib dibawa untuk makrab. Dari semua temen-temen gue yang ikut makrab kayaknya gue sendiri yang paling banyak bawaannya. Satu ransel gunung yang berukuran besar pun gak muat untuk membawa barang yang gue bawa alhasil, sisanya gue masukin ke dalam kresek.
Kurang lebih 20 menit kemudian.
Bus yang ditunggu pun datang. Seiring mendekatnya bus itu ke arah kami, gue jadi deg-deg an excited gak jelas gimana gitu. Gue ngerasa sesuatu yang meletup-meletup dari dalam hati gue. Syukurnya, gue gak sampe nyanyi lagu “Heavy Rotation-JKT48” sangking senangnya. Kalau itu yang terjadi, maka image kegantengan gue menurun 2000% di mata temen-temen gue yang cewek.
Perjalanan menuju lokasi makrab ternyata lumayan dekat hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Sepanjang perjalanan gue gak bisa tenang. Gue terus-terusan kepikiran gimana rasanya mandi sungai setelah sekian lama. Apakah gue harus mandi pake kolor aja? Atau telanjang gak pake kolor? Pilihan Telanjang bulat gak pake kolor gue tinggalkan. Itu gak mungkin! Gimana seandainya nanti pas mandi temen gue yang cewek ngeliat. Bisa hancur harga diri gue sampe cucu turunan ketujuh.
Setelah pusing mikirin semua petualangan yang bakal gue lakuin selama MAKRAB, AKHIRNYA KAMI TIBA DI LOKASI!!!
Ternyata lokasinya lebih cantik kalau dilihat langsung ketimbang dari google. Gue senyum-senyum gak jelas pas liat aliran sungai yang deras. Gue udah berusaha untuk sembunyiin senyum bahagia gue sebisa mungkin dari temen-temen gue. Yang ada bukannya nahan senyum sekarang mukak gue mirip kayak mukak om-om hidung belang yang lagi senyum-senyum kecil.
Sampai di lokasi yang ditentukan menjadi kawasan untuk makrab, kami langsung disambut semua kakak tingkat Himpunan. Kami semua dibariskan untuk mendengarkan pembukaan acara makrab kali ini. Dengan ditancapkannya bendera Himpunan, maka resmilah kegiatan dimulai. Kami semua dipersilahkan masuk ke tenda yang telah disediakan. Pas masuk ke tenda, dengan tenda sekecil ini, gue bisa bayangin gimana nanti posisi kami tidur. Pasti mirip kayak posisi ikan asin yang lagi dijemur. Gue berharap semoga pas tidur gue gak mati kehabisan oksigen.
Gue milih lokasi yang paling ujung deket pintu masuk. Gue sengaja milih disitu karena hanya di posisi inilah sirkulasi udara bebeas masuk meskipun ancaman gue mati duluan karena digigit ular lebih besar. Tapi gak papa, meskipun gue harus mati duluan demi ngelindungin teman yang lain gue ikhlas. Kali aja pas mati gue bisa masuk surga. Lumayan, manatau bisa ketemu Miyabi di surga kalau rezekikan siapa yang tau?
Selesai ngeletak semua barang kami kembali dibariskan. Kami semua dibariskan untuk mengikuti seluruh rangkaian acara yang telah ditetapkan. Acara pertama kali ini adalah mendatangi pos-pos yang telah ditentukan. Karena sebelumnya kami udah dibagi menjadi beberapa kelompok, maka disebutkanlah giliran-giliran untuk mendatangi setiap pos. Waktu itu, gue ada di kelompok sembilan. Ntah atas izin ataupun persutujuan dari siapapun, tiba-tiba gue yang ditunjuk jadi ketua kelompok. Gue gak tau kenapa gue yang dipilih, padahal sebagai ketua kelompok gue lebih jago menuntun mereka ke jalan yang penuh kesesatan ketimbang kebenaran.
Gue, dan temen-temen dari kelompok sembilan pun berjalan menyusuri hutan untuk mencari pos-pos yang ditentukan. Setiap berhenti di pos kami bakal ditanya-tanya in, disuruh membuat alat, ataupun lainnya kalau gak bisa maka kami harus merelakan wajah kami dicoret pakek arang. Untung cuma pake arang, kalau pakek pylox pasti mukak gue udah jadi grafiti.
Dari semua pos yang udah gue datengin menurut gue pos empat pos yang paling keren. Karena untuk sampai ke pos ini gue harus jalan melalui sungai yang arusnya deras. Gue yang dari awal datang niatnya memang pengen mandi sungai tentu udah kegirangan. Gue tunjuk temen gue yang bisa berenang jalan di depan sebagai penunjuk jalan. Sedangkan gue berada di paling belakang jagain anggota gue yang perempuan. Tentu, sebagai orang yang paling belakang jalannya gue bisa sengaja pura-pura jatuh, pura-pura nganyut, pokoknya gue bisa lakuin apapun seenak gue. Ini menjadi pos terakhir yang kami datangin.
Setelah selesai mendatangi semua pso, kami dipersilahkan untuk mandi. Gue pun mengajak temen kelompok gue untuk mandi di sungai. Dari sekian banyak yang gue ajak, ternyata hanya Roy yang mau ngikutin saran gue mandi di sungai. Sambil menunggu kelompok yang lain selesai, kami siap-siap ganti baju untuk mandi di sungai.
Gak asyik rasanya kalau mandi di sungai cuman berdua. Bukannya seneng-seneng, yang ada malah kayak orang pacaran malah temen gue Roy cowok lagi. Kan gak enak aja kalau pas gue mandi-mandi, seneng-seneng berdua, malah dikira homo. Gue pun menunggu temen-temen dari kelompok lain yang mau diajakan mandi sungai.
Orang-orang supernekat dan juga gila yang gue tunggu-tunggu pun dateng. Dengan beranggotakan 7 orang kami pun menyusuri dan mencari sungai yang dalam yang cocok untuk lompat-lompat dan mandi. 5 menit berjalan, kami pun sampai. Aliran sungai yang kami datangin ini berbeda dengan yang kami temuin sebelumnya lebih tenang, lebih kalem, dan bisa dibilang kalau yang ini pasti dalem. Bener aja, pas gue berenang gue coba untuk mencecahkan kaki gue ke dasar. Perlahan demi perlahan badan gue tenggelem mengikuti kaki gue... setelah gue coba busetttt... ini kaki kok gak nyampe-nyampe ke dasar. Ternyata ini beneran dalem dan kira-kira dalemnya itu sekitar 3,5 meter.
Saat itu gue belum berani lompat bebas ke sungai yang dalam itu karena saat itu gue masih memiliki trauma. Gue pernah berenang di kolam renang yang dalamnya kira-kira 5 meter. Di kolam renang yang dalem pasti ada papan lompat. Nah, waktu itu meski belum terlalu mahir berenang, gue nekat aja lompat. Sekali... Dua kali.... gue ketagihan. Pas kira-kira lompatan yang kelima, disinilah gue ketiba sial. Pas gue lompat dan mulai berenang ke permukaan buat ngambil nafas, tiba-tiba temen gue lompat persis diatas kepala gue. Otomatis gue langsung ketolak ke dasar dengan keadaan mulut yang mangap karena nahan sakit akibat benturan kakinya dengan kepala gue.
Sedikit demi sedikit air kolam renang pun mulai terminum gue. Disitu gue panik, karena pas di dasar semuanya gelap malah nafas gue udah mulai ngos-ngosan lagi. Gue langsung berenang secepat mungkin buat ke permukaan tapi karena panik berenang gue malah jadi gak beraturan. Semakin panik... panik... dan gue mulai berpikir mungkin ajal gue memang disini. Sampai akhirnya penjaga kolam langsung niup peluit dan terjun ke arah gue. Syukurlah gue selamat. Darisinilah gue trauma untuk lompat-lompat lagi kalau berenang.
Sore itu, meskipun gue dalam keadaan trauma, gue tetep berenang meskipun tanpa lompat-lompat   dari pinggir batu. Tak terasa matahari semakin menampakkan senjanya, suara jangkrik mulai terdengar, suara tawa kami yang menikmati mandi-mandi di sungai pun perlahan lenyap. “Udah mau gelap, ayo pulang” kata salah satu temen. Kami langsung naik dari sungai dan bergegas berjalan menuju tenda.
Dengan suasana langit yang mulai gelap, berakhirlah acara mandi-mandi sungai di hari pertama.
Kurang lebih seperti inilah pemandangan sungai yang kami jadikan tempat mandi-mandi:
Kalau ini gambarnya gue comot dari google soalnya selama makrab dilarang bawa HP


Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Monday, 01 February, 2016 delete

institut teknologi sumatera, mas.

Reply
avatar

instagram