#JalanJalanSesat : Surga Tersembunyi di Teluk Kiluan


Untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik diperlukan sebuah pengorbanan. Sama seperti  sebuah karya seni. Demi mendapatkan seni yang indah diperlukan waktu dan keuletan dalam prosesnya. Begitulah yang aku alamin saat mencari surga tersembunyi yang ada di Provinsi Lampung.

Teluk kiluan.

Dari namanya aja kita udah tau kalau itu teluk, udah bisalah klen bayang-bayangin sendiri gimana keadaannya. Sumpah, aku juga bingung gimana ini deskripsiinnya. Intinya, dialah salah satu surga dari alam Lampung yang gak kalah dari surga-surga yang ada di Nusa Tenggara dan Bali.

Aku berangkat ke Teluk Kiluan secara tiba-tiba tanpa direncanain sama sekali. Soalnya, sebelum berangkat ke Teluk Kiluan, aku habis snorkeling di Pulau Pahawang. Nah, Pahawang ini salah satu wisata snorkeling yang gak boleh kamu lewatin kalau ke Lampung. Pemandangan bawah lautnya bagus, pantainya bagus, pengunjungnya pun bagus-bagus banyak cewek bulenya. Membuat mata ini seger kalau ngeliat.

Cewek bule yang datang ke Pahawang ini memang gak punya malu. Pakaiannya kayak kurang bahan, bolong sana-sini. Aku pun sempat heran, itu pakaian apa kain lap? Melihat banyaknya cewe bule yang datang, ini menjadi kesempatan oleh temen-temenku untuk ngajak foto bareng.

Sebenernya, aku juga pengen foto bareng cewek bule kapanlagi coba punya kesempatan foto bareng cewek bule sexi yang make kain lap? Tapi, pas jalan di sampingnya aku jadi sadar, tinggiku hanya se-keteknya saja. Kalau foto disampingnya, yang ada nanti bukan foto malah mirip goblin yang pengen nyium ketek majikannya.

Bukan cuman itu, pelafalan bahasa inggrisku pun jelek kalau lagi conversation. Mau bilang "How are you", malah jadi bilang "May i kiss you" Mau minta foto takutnya malah jadi, "Can i take a bitch with you?" padahal harusnya "Excuse me, can i take a pict with you?".

Selesai foto-foto dengan bule yang nggak beradab, kita pun udahan dan kembali ke pelabuhan penyebrangannya.

Pas lagi beres-beres mau pulang, ada salah satu temen yang ngusulin "Gimana kalau kita lanjut ke pantai yang satunya lagi?". Terjadi dilema sewaktu denger usulan yang satu ini. Masalahnya, pantai yang diusulin itu adalah "Teluk Kiluan". Bukannya deket, jaraknya hampir empat jam lagi dari tempat kami saat ini. Sebagai mahasiswa yang nebeng kemana-mana, aku cuman bisa ngikutin kemauan si pemilik motor. Sialnya, si-kawan ini malah setuju pengen ikutan.

Oke, karena banyak temen yang setuju dan banyak jugak yang enggak, kita pisah. Sebagian pulang sedangkan yang ikut ke Kiluan harus tinggal dulu di tempat buat ngomongin rencana keberangkatan. Jadilah hanya tersisa beberapa orang.

Perjalanan menuju Teluk Kiluan sangat melelahkan. Pantat tepos karena kelamaan duduk di motor, mata ngantuk, kalau diterusin nih, pas turun dari motor aku yakin pantatku udah turun 2 kilo. Sepanjang jalan hanya terlihat perkebunan warga, hamparan sawah dan lainnya. Jalan menuju ke Kiluan masih sangat sepi dan kalau bisa nih, hindarin ke lokasi ini malam-malam.

Itu tadi hanya secuil jalan menuju Kiluan masih panjang lagi perjalanan. Harus naik bukit turun bukit, gak kebayang gimana parahnya jalan mau ke lokasi ini. Mungkin hal inilah yang membuat Teluk Kiluan tidak terlalu terekspos dan belum bisa terkenal seperti pantai-pantai yang ada di Lombok dan di Bali. Pemerintah masih belum memfasilitasin jalan yang cukup baik untuk ke lokasi ini. Bahkan, saat sampai di sebuah garda yang bertuliskan "Selamat Datang di Teluk Kiluan" yang kalau kita berhenti dan berditi bakal keliatan pantainya, masih harus jalan jauh lagi biar bisa sampai.

Kitapun sampai di lokasi sekitar jam 20.00 wib padahal berangkat dari jam 16.00 wib. Gak kebayang gimana capeknya untuk sampai kesini. Hari itu udah malam, pantai yang keliatannya indah pun hanya terlihat gelap. Kami semua segera mendirikan tenda dan langsung istirahat.



Bangun keesokan harinya, aku buru-buru keluar tenda dan bahagia banget pas ngeliat pinggir pantainya. Ini cantik banget... maklum, pantai di Medan airnya hitam semua kayak habis ketumpahan oli. Sangking bahagianya, aku bingung harus salto atau kayang dulu. Waktu ngeliat itu, aku cuman bisa diam dan bener-bener takjub sama ciptaan yang Maha Kuasa.

Teluk Kiluan posisinya di sebuah pulau disamping laut lepas. Saat itu, posisi kami ada di sebuah pulau yang letaknya di sampingnya. Harus nyebrang naik sampan dulu biar sampai ke Pulau Kiluan.

"Ayo mas semangat... itu pulaunya!!"
Aku yang daritadi gak sabar langsung ganti baju buru-buru tanpa ngekhawatirin kalau kolor yang kubawa dari kemarin sampe sekarang hanya satu, ya ini.. yang lagi kupakek ini.

Setelah semua selesai ganti baju dan nawar biaya sampan dengan penduduk setempat, kami masing-masing langsung naik ke sampan yang telah disewa.


Airnya yang biru, terumbu karang yang keliatan di dasar, membuat aku gak sabaran pingin nyebur langsung. Ah... indahnya ciptaanmu ini Tuhan.

 
Biru warnamu membuatku takjub dan bersyukur. Tiada yang sebanding dengan ciptaan-Mu ya Allah.



"Nenek moyangku seorang pelaut"


Selama 15 menit menyebrang dengan menggunakan sampan, aku kayak udah ngerasa jadi bajak laut yang nyebrangin semua lautan, PUAS! Kami pun sampe dan kapal segera kembali ke dermaga.    

IT'S TIME FOR NYEBOORRR !!!

Ganteng-ganteng mirip Dugong (1)

Ganteng-ganteng mirip Ikan Dugong (2)


Abaikan warna kulit yang udah mirip oli kotor


Waktu itu, kami semua seperti bocah yang berlarian kesana-kemari, lempar-lemparan pasir dan air, ah... aku rindu moment itu. Semua yang kami rasakan hanyalah perasaan bahagia meskipun udah berapa kali kami terluka karena ulah kami sendiri. Masalah yang kami derita saat itu buyar bersama canda tawa kami. Inilah masa muda yang aku impikan berbaur bersama teman sambil bercengkrama dengan alam. Indahnya moment saat itu.

Kata penduduk setempat, kalau memang beruntung kita bisa liat lumba-lumba melompat dengan girangnya dari laut. Sayangnya, hari itu tidak ada lumba-lumba seperti yang diceritakan, tapi, segerombolan ikan mengelilingi kami saat berenang.

Wah.... Bahagia... bahagia... bahagia... hanya kata-kata itulah yang kupikirkan di otakku. Tidak ada kata kuliah, dosen, kalkulus, atau yang berbau-bau akademik pikiranku blank sangking bahagianya.


Sampai pada, aku ngerasa kalau pantatku risih karena kemasukan pasir dan saat aku periksa, ya tuhan... aku baru sadar kalau cuman ini kolor satu-satunya yang aku bawa. Kolor inilah yang akan ku pake ketika nanti pulang. Basah-basahan naik motor dengan kolor yang juga basah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku pun harus terima pulang dengan keadaan pantat yang penuh pasir dan rasa gatal yang memuncak akibat pasir tadi. Pas mandi di kos pun aku ngerasa kalau pasir yang tadi nempel udah keras kayak semen yang melekat dibutuhkan kekuatan yang ekstra untuk mencabutnya. Inilah aku, anak kos yang hobi jalan-jalan tapi selalu kekurangan kolor.

*NB: Usahakan kalau mau jalan-jalan ke tempat usahakan bawa kolor yang banyak. Kekurangan kolor di tempat wisata itu bukanlah hal yang menyenangkan.

Sampai bertemu lagi Kiluan. Aku rindu ketenanganmu.


Bye.... see you for the next trip stories...

 
Previous
Next Post »

instagram