BERHENTILAH BERHARAP!



Aku udah gak heran kalau rata-rata mahasiswa baru di tempatku kuliah banyak yang mengundurkan diri setelah tau nilainya pada semester ganjil. Sebagai orang yang duluan kuliah di tempat ini, aku paham betul gimana kondisinya. Masuk tiap hari, tutor tiap hari, tapi tetep aja nilai masih E ketika ujian. Yah beginilah, belajar itu emang sakit, kalau gak mau sakit gausah belajar. Jadi, sebagai senior aku udah gak heran kalau ketika semester genap berakhir nanti, pasti banyak mahasiswa baru yang bakal pindah lalu mendaftar SBMPTN lagi.

Dua tahun aku kuliah di tempat ini, aku udah banyak kehilangan teman. Banyak dari mereka pindah yah karena fasilitas kampus ini belum lengkap, banyak juga yang pindah karena kuliah disini bukanlah passionnnya, tapi ada juga yang pindah karena dia keterima di kampus yang lebih bagus. Jadi aku udah gak heran kalau dengan cerita mahasiswa baru banyak yang pindah udah jadi tradisi soalnya.

Tapi, aku terkejut waktu dengar cerita yang satu ini.

Jadi, waktu aku lagi makan di tempat nasi uduk langganan, penjualnya, biasa kami panggil “bukde”, nanya ke aku, “Kamu kenal si Udin yang tinggal di kosannya Pak Sentot, nggak?”

“Nggak bukde, kenapa memangnya?”

“sekarang dia udah gak disini lagi, udah balik ke kampung. Semenjak nilainya rendah, dia gak pernah kuliah dan akhirnya pindah.”

“oh… itu mah biasa, de. Aku udah gak heran.”

“Padahal dulu, waktu pertama kali nyampe kesini, orangtuanya itu bangga banget sama anaknya. orangtuanya itu, kalau banggain anaknya, uh.. gak usah ditanyalah, parah kali pamernya. Yang dibilangnya anaknya pintarlah, juara kelaslah, pokoknya sombong bangetlah itu mamaknya.”

“Masih ada aja orangtua kek gitu di dunia ini ya, de.. haha,” sambungku.

“Sekarang liatlah pas anaknya dapat nilai rendah, mamaknya jatuh sakit katanya di kampung. Kakaknya pun marah-marahin si anak ini karena nilainya rendahlah si mamak ini sakit. Makanya dia gak pernah masuk lagi gara-gara itu.”

“Lah, emang ada hubungannya nilai rendah sama penyakit. Masa’ gara-gara anaknya dapat nilai rendah, eh.. mamaknya malah sakit,” jawabku heran.

“Yah, disini aja mamaknya bangga-banggain anaknya setinggi langit, apalagi di kampungnya sana, ntah gimana lagi lah dia banggain anaknya itu.”

“Kalau akusih, de, pertama, kasian liat anaknya tertekan karena dislaha-slaahin. Kedua, aku kasihan juga liat mamaknya jatuh sakit karena tau nilai si anak rendah. mungkin udah terlalu banyak berkorban makanya bisa sampe segitunya. Gimanalah mental si anak sekarang ini. Disalah-salahin sama kakaknya karena nilainya rendah. Coba aja kakaknya di posisi dia, bisa gak dia lebih baik.”

Gara-gara keasyikan ngobrol sama bukde, nasi uduk yang kupesan pun jadinya dingin dan rasanya udah gak sesedap dimakan pas masih hangat-hangatnya. Yah, ginilah kalau ngobrol sama penjual nasi uduk yang penjualnya ibuk-ibuk, pasti ada aja bahan buat diceritain hehe…

Gini ya, belum tentu, seorang juara kampung bisa menjadi juara kota saat dia merantau. Apalagi, yang selalu juara kelas di SMA, belum tentu bisa jadi juara di kampus. Gak ada yang bisa menjamin. Kampus adalah secuil tempat berkumpulnya semua tipe manusia yang ada di Indonesia. Inilah contoh kecil dari masyarakat. Kalau di SMA kau hanya bersaing dengan antar kota, kecamatan, kabupaten, di dunia kampus, kini kau bersaing dengan siapapun dan darimanapun. Bahkan, teman sekamar mu jugalah sainganmu sendiri.

Si anak tadi adalah salah satu korban dari orangtua yang terlalu banyak berharap kepada anaknya. Ada banyak tipe-tipe orangtua di dunia ini. Ada yang tetap mensupport anaknya walaupun dia tau kalau anaknya itu lemah. Ada juga orangtua yang disiplin dalam mendidik anaknya dan ada juga orangtua yang selalu berharap bahkan untuk harapan-harapan yang terlalu tinggi yang bisa membuat si anak tertekan. Orangtua seperti inilah yang biasanya selalu membanggakan prestasi anaknya di depan semua tetangga dan memarahinya habis-habisan ketika si anak gagal.

Sudah sewajarnya, kita sebagai anak menjadi harapan oleh orangtua, tapi, orangtua juga harusnya sadar, kita hanyalah seorang anak, bukan dewa dan bukan robot yang bisa memenuhi semua harapan mereka. Kadang kala kita sukses, kadang kala kita juga terjatuh dan gagal berkali-kali. Orangtua seharusnya menerima setiap kesuksesan apalagi kegagalan yang di dapat si anak dan itulah fungsinya orangtua. Ada disaat sukes, dan mendorong bahunya dikala mulai berjuang, mensupport ketika kita gagal bukan hanya berharap anaknya sukses dan ketika gagal memarahinnya habis-habisan. Dibalik seorang anak yang sukses, ada doa orangtua yang terkabul dan dibalik semuanya itu, ada orangtua yang selalu mensupportnya habis-habisan.

Aku bersyukur punya orangtua yang gak berharap muluk-muluk dari anaknya. Yang penting, masih ada niat belajar maka kami pasti akan dikuliahkan. Kalau saat ini bapakku hanyalah pegawai TELKOM, dia berharap nantinya di masa depan aku bisa jadi melebihi dia. Melebihi dalam hal apapun itu. Jika tidak bisa melebihi jabatannya, maka ilmulah yang menjadi targetnya. Aku juga bersukur punya orangtua yang gak pernah bilang, “kamu harus dapat IPK 3 ntar ya kuliah”, dia hanya bilang. “Kalau bisa berusahalah dapat IPK 3 pas lulus..” meskipun tidak menuntut untuk dapat IPK 3, aku sebagai anaknya juga pasti sadar, buat apa kuliah kalau pas lulus nilainya gak sempurna. Maka dari itu aku berusaha buat dapetin angka 3 keramat ini dan alhamdulillah sampai sekarang aku belum bisa dapat. Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang juga IPK nya belum bisa 3. Dunia teknik ini emang kejam!

Buat semua orangtua dimanapun kalian berada, berhentilah membanggakan anak kalian di depan tetangga, saudara, maupun di grup whatsapp keluarga. Kalian tidak mendapatkan apapun saat kalian membanggakannya di depan semua orang, percayalah itu hanya buang-buang waktu saja. Seorang anak tidak butuh dibanggakan di depan orang, dia lebih butuh untuk diberikan dukungan dan dorongan. Genggam tangannya ketika dia gagal, dorong semangatnya ketika dia mulai berjuang, dan itulah sebenar-benarnya orangtua.

“Banyak anak yang menjadi korban dari harapan orangtua. Bukannya mendukung, dia (orangtua) lebih sering berharap terlalu tinggi kepada anaknya. Bukan bangga yang dirasakan si anak ketika menjadi yang diharapkan, yang ada malah tertekan. Sebagai anak pun kita tau, semenjak lahir, kitalah harapan mereka, tapi, please, anak juga manusia bukan robot yang bisa memenuhi semua harapan orangtua. Adakalanya kita berhasil, ada kalanya juga kita gagal, jatuh berkali-kali, dan disinilah fungsi orangtua, mensupport anaknya ketika gagal, mendorong bahunya ketika mulai berjuang. Dan ketika berhasil, ingatlah, dibalik orang yang berhasil ada doa orangtua yang terkabul dan dibalik semuanya itu, ada orangtua yang selalu mensupport habis-habisan anaknya. kita juga sebagai anak, sebagai orang yang diharapkan sepantasnyalah berjuang habis-habisan karena kitalah alasan mereka (orangtua) berjuang/bekerja siang-malam untuk membiayakan biaya pendidikan kita.


*Nb: Aku menulis ini bukan karena masalah pribadi. Aku jenuh setiap kali dengar kisah anak yang tertekan karena ditekan oleh harapan dari orangtua. Apalagi kisah anak yang berhenti kuliah karena gagal memenuhi ekspektasi orangtua.

Ali Bin Abi Thalib RA bilang,  “aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Wednesday, 20 September, 2017 delete

hmm.. saya sih gak pernah berhenti berharap ... kepada Allah SWT.
Salam kenal ya..

Reply
avatar