#StopBullying: Anak SMP Masa Kini



Semasa SMP di Pesantren dulu, bisa dibilang aku adalah seorang santri yang pintar dan cukup terkenal diantara yang lain. Bisa dibuktikan semua perlombaan olimpiade yang kumenangkan, dan rangking kelas yang kudapat. Gak jarang jadinya, santriah/santriwati sewaktu jam istirahat mendekatiku untuk minta diajarin pelajaran-pelajaran yang sulit.

Ini menimbulkan kecemburuan bagi teman-teman santriku yang lain.

Mengajarkan teman sesama santri maupun santriah adalah hal yang wajar. Apalagi saat dikerubungin oleh segerombolan santriah yang minta diajarin, itu juga hal yang wajar. Aku belum mengenal cinta waktu itu, aku juga belum tau cara merebut hati santriah. Jadi kalian gak perlu cemburu oke?

Aku heran saat bangun subuh, semua teman-temanku sikapnya berubah. Mendadak dingin tatapannya, memboikot untuk berbicara padaku. Setiap kali kuajak bicara mereka hanya diam, membuang muka, seakan-akan menganggapku tak ada. Jadi ini yang namanya dimusuhin seluruh teman sekamar? Diumur yang semuda itu, aku udah harus merasakan gimana rasanya dimusuhin.

Mau ngapa-ngapain di kamar pun jadi susah. Mau ngomong pake bahasa arab gak ada kawan bicara, mau ngasih makan mereka diam aja, yang ada sesekali kadang aku dibentak dan disindir-sindir mereka. Malah, selama hampir seminggu lebih aku dimusihin, ada yang berani memukulku karena nggak senang dengan yang aku lakukan sehari-hari. Padahal yang aku lakuin itu biasa aja, bangun pagi, mandi, belajar, pulang, sholat, makan, udah. Gak ada tuh nyuri kolor temen, untuk dipake sendiri atau dijadiin hiasan kenang-kenangan setelah lulus, gak ada! 

Yah, aku cuman bisa diam sambil berulang kali memberi pengertian kalau mereka salah paham. Aku gak berani melawan, apalagi memukul balik mereka, karena dimusuhin sekamar, bukan satu orang, bisa-bisa aku dihajar. Begitulah bully yang biasa dirasakan anak-anak yang sekolah di pesantren.

Bukan cuman sinetron TV yang rusak, moral anak bangsa kini terkena imbasnya. Biasa menonton adegan Boy anak jalanan yang berantem melawan komplotan geng lainnya, ataupun ganteng-ganteng serigala yang selalu berrtempur bila harus rebutan darah suci, adegan-adegan yang mereka tonton di TV itu lama-lama menjadi sebuah kebiasaan dan mau gak mau, perilaku mereka berubah dan mulai melakukan adegan-adegan itu di kehidupan nyata mereka.

Lo tau berita hari ini? Berita tentang siswa-siwi SMP yang melakukan tindakan bullying ke teman sebayanya, sampai-sampai korbannya tersebut harus bersujud di kakinya sang pelaku bullying?

Aku tau berita ini dari sebuah postingan di instagram yang viral karena isinya video yang menampilkan aksi bullying + nama akun pelaku yang tertera.

Reaksi kita pasti sama habis menonton video tersebut, iya, geram. Anak kelas tujuh SMP, yang kalau naik motor hobinya bonceng tiga, yang kalau make BH masih kedodoran, udah bisa ngelakuin hal kek gini.

Bullying emang penyakit, yang biasanya timbul disaat SMP, dimana di masa-masa ini lo sedang sibuk mencari jati diri dan asik membuat gerombolan, geng, ataupun grup. Di usia ini, kita masih renta, kalau sewaktu bayi kita adalah kertas yang kosong, maka sewaktu SMP, sama, kita masih berupa kertas yang kosong namun disini kita mulai berusaha untuk mengisi dan mewarnai kertas kosong tersebut.

Mungkin banyak yang pernah bilang, "aku terlahir di generasi yang salah".

Sikap bengis kita terhadap teman sebaya, bisa jadi itu hasil yang di dapat dari keluarga (mungkin korban KDRT), pertemanan, ataupaun lingkungan di tempat kita tinggal. Tontonan-tontonan TV yang selalu menayangkan cerita dengan alur pembullyan dimana cerita utamanya biasa dibully oleh pemeran antagonis bersama rombongan gengnya, bisajadi salah satu faktornya.

Pihak TV mungkin, ingin mengajarkan arti menjadi orang yang sabar melalui sikap si pemeran utama, namun, anak-anak remaja yang menontonnya salah tanggap, malah meniru dan menganggap keren si pelaku antagonis bersama rombongannya. Ini semua salah siapa? 80% orangtua.

Orangtua mungkin kurang mengawasin anaknya dalam menggunakan sosial media ataupun menonton TV.

Ketika di pesantren dulu, setelah aku menjadi kakak kelas yang paling senior di pesantren, seharusnya ini menjadi ajang balas dendam kepada adik kelas sebagaimana dulu yang pernah aku rasakan selama masih menjadi junior di pesantren. Teman-temanku demikian, gak jarang dari mereka yang memasukkan seorang junior yang menurut mereka mengesalkan tingkahnya ke dalam asrama mereka, lalu mereka menghajarnya.

Mamak selalu pesan,"Jangan suka mukul orang, walaupun kamu dulu selalu dipukul. Kalau kamu lakuin, sama aja kamu itu balas dendam dan tingkahmu nanti seterusnya pasti dicontoh oleh adik kelasmu yang kamu pukulin."

Selama di pesantren aku nggak pernah mukul adik kelas. Palingan yah, manggil mereka untuk bantuin gosok baju, mijetin, ataupun jemur pakaian. Aku gak pernah menghukum mereka dengan pukulan, push up 100x, atau nyiumin satu-satu kolor busuk yang gantung di jemuran.

Percuma kalau harus membalas yang buruk dengan hal buruk juga, semuanya akan terulang. Meskipun ketika kau berbuat baik, tapi hal buruk itu masih terus terjadi, berbanggalah, karena kau spesial.

Membully, menghina, memang menyenangkan. Si Pelaku bullying a.k.a Anak SMP yang berlagak seperti penguasa, mungkin nggak besa bedain yang mana namanya kesal, yang mana namanya saling ejek-mengejek, atau membully.

Menurut keterangan salah satu pelaku, dia bilang kalau semuanya ini bisa terjadi karena si korban memiliki masalah dengannya, terus? Lo kira lo pantes ngelakuin tindakan bully? Lo boleh nggak seneng sama yang dilakuin korban sama lo, lo boleh narik tangannya korban lalu ngobrol atau ngelabrak dia, TAPI SENDIRIAN BUKAN KROYOKAN. BULLY ITU TINDAKAN DIMANA SEGEROMBOLAN ORANG INGIN MENYAKITI ATAU MENGONTROL KORBAN. BAIK SECARA PSIKIS ATAUPUN FISIK.

Biasanya pelaku bullying senang dan merasa puas dengan tindakan yang telah dilakukannya. Yah, begitulah, bukan cuman SARA, bangsa kita lagi goyah menghadapi segala macam permasalahan yang di dunia nyata maupun dunia maya. Bullying, Cyber Bullying, sama bahayanya. Yang diserang adalah mental.



Aku gak akan bilang kalau "Apa yang kau lakukan hari ini, maka itu yang akan kau terima", atau "Semua itu ada karmanya!" Itu urusan Tuhan. Sebagai manusia aku cuman bisa bilang, hentikan, hentikanlah sikap bullying yang lagi marak sekarang ini. Jangan ada kasus bullying dianta kita. Hari ini mungkin lo membully, di masa depan siapa yang tau. Jika lo tetap ngelakuin bullying, maka itu akan terus berulang, percayalah. Hentikan, mulai dari diri kita sendiri. Kesal, lalu membully korban, mungkin melegakan tapi itu bukan jawaban. Lo gak seneng, lo datengin, tapi sendirian. Lo gak suka, tinggal chatting, ajak ketemuan atau telpon. Semua itu sendirian, bukan ramean. 

Ketika matipun kau sendirian, bukan dikurbur bareng geng bully-mu itu. #StopBullying #BullyingBukanJawaban 








Previous
Next Post »

10 komentar

Write komentar
Mukhsin Pro
AUTHOR
Tuesday, 18 July, 2017 delete

Sangat geram dibuat pelaku-pelaku bullying ini, apalagi kasus yang Universitas Gunadarma itu.

Reply
avatar
Tuesday, 18 July, 2017 delete

sama mas. aku langsung mendidih waktu tau kasus gunadharma. katanya mahasiswa, tapi kelakuannya miris macem siswa.

Reply
avatar
Music
AUTHOR
Tuesday, 18 July, 2017 delete

Hrus d bkin praturan nih tntang bullying. Trutama bullying fisik

Reply
avatar
Tuesday, 18 July, 2017 delete

Benar banget gan, bullying itu paling bahaya, apalagi klo yg tidak bisa memfilter nya...

Reply
avatar
Tuesday, 18 July, 2017 delete

Pemerintah dan guru2 kelas dan sekolah harus lebh tegas. Dan lebih memperhatikan murid ny. Terutama menggunakan media digital sekrng untuk mengawasi murid agar lbh efisien.

Reply
avatar
Tuesday, 18 July, 2017 delete

Biasanya ini terjadi karena anak yg membully itu kurang pengawasan dari orang tua dan guru. Seharusnya yg berperan aktif disekolah itu guru, guru seharusnya mengajarkan bahwa tindakan bully itu tdk boleh dilakukan

Reply
avatar
Wednesday, 19 July, 2017 delete

yang siatnay tegas dan maksa kalau bisa. soalnya bullying udah meraja lela.

Reply
avatar
Wednesday, 19 July, 2017 delete

hahaha iya gan, budaya buruk yang buat mental terpuruk.

Reply
avatar
Wednesday, 19 July, 2017 delete

tapi tetap mbak, yang paling penting bukan guru, tapi orangtua. orangtua harusnya bisa mengaish pendidikan soal moral atau etika dan mengawasi mereka ketika di sosial media.

Reply
avatar