589 Hari Telah Berlalu


Aku tak bisa mengingat kapan hari pertama aku mulai berambisi. Berani bermimpi besar, bercakap besar, aku lupa kapan hari pertama itu.

Satu hari dimana aku hanya memikirkan diriku sendiri dan orang lain hanya kuanggap sebagai bayangan. Aku tak perlu membuang waktuku dengan memikirkan beberapa bayangan. Toh, ketika sang fajar terbenam sosoknya juga tak terlihat, menyatu bersama gelapnya malam.

Aku hanya sibuk memikirkan diriku sendiri. Aku masih sibuk mengejar nilai terbaik dalam studiku seakan-akan aku tak butuh orang lain. Seakan-akan ketika esok datang hari kiamat hanya aku sendiri yang merasakannya. Kiamat kecil yang katanya selalu dekat dan bisa terjadi dimana saja membuatku semakin terpacu dan terburu-buru berlari berusaha menyelamatkan diri.

257 hari telah berlalu.

Sama saja, aku masih tetap sibuk memikirkan kehidupanku sendiri. Kini waktuku semakin menipis, sebelum semuanya terbang menjadi debu lalu terurai terbang di udara.

Dan tak terasa kini 589 hari telah berlalu. Aku masih sama, masih belum melakukan apapun tak ada kontribusi yang bisa kulakukan untuk negeri. Aku menjadi manusia paling merugi. Sudah tak ingat kapan hari pertama mulai berambisi, dan kini tanpa disadari waktu perlahan namun pasti sudah menggerogoti. 1 tahun 224 hari atau sama saja dengan 589 hari dengan sadar dan pasti, sebagian besar ambisi dan mimpi masih belum bisa diraih.

Hari ini aku masih menjadi domba yang dicuci otaknya. Senin sampai sabtu menyerahkan diri mengikuti laju rutinitas, duduk, diam, dan dengarkan, telanlah semua itu bulat-bulat. Ocehan yang keluar dari mulut para pendidik sejatinya adalah berkah namun terkadang semuanya itu terasa berat. Aku terus menjalani hari-hari itu tanpa tau harus berhenti dimana, apa yang akan dicapai, dan apa yang bisa kuraih. Aku hidup seperti seorang yang berhutang namun enggan untuk membayar. Dikejar-kejar, ditagih oleh deadline yang menumpuk di belakang. Meskipun sudah kucicil tapi itu tetap tak akan selesai. Minggu depan akan datang lagi hutang deadline yang baru, maka dari itu aku seperti orang berhutang yang enggan untuk membayar.

Malam itu, satu kalimat singkat dari sahabat lama melalui twitter menjadi sebuah hiburan yang awalnya membuaiku. Membuatku terbang ke masa lalu mengingat betapa indahnya moment-moment dari rentang waktu yang telah berlalu. Sampai akhirnya dia pun sampai dipuncaknya lalu bertanya,

"Apa kontribusimu?".

Nafasku sesak, rasanya tertahan. Sate yang sudah ada di dalam mulut rasanya berubah hambar. Tadinya aku ingin menghabiskan hari ini dengan bahagia. Makan sate sekenyangnya lalu pulang dan rebahan. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tenang, tapi sia-sia. Pertanyaannya sudah terlanjur terlihat dan kubaca.

Sampai hari ini, di hari dimana aku sendiri sudah lupa berapa hari telah kulalui dari mulai awal menanam ambisi, AKU MASIH SIBUK MEMIKIRKAN KEBAHAGIAN DIRI SENDIRI. Kata-kata kontribusi sampai detik ini menjadi hal yang paling kuhindari. Rasanya sakit, ketika mimpi-mimpi jaman dulu semuanya menyeruak bersama ingin keluar dari tenggorokan.

Kau tahu, kawan? Itu rasanya menyakitkan sungguh-sungguh sangat menyakitkan. Seperti memakan sepotong rendang namun kau tersedak saat sedang lapar-laparnya. Daging yang lembut berubah tajam seperti samurai. Membelah masuk dari tenggorokan menuju perut sampai air mataku keluar dan mau mati rasanya.

Dimana rasa prihatinmu? Dimana rasa idealismemu yang dangkal yang selama ini selalu kau banggakan?

Bukankah kau orang yang selalu nyinyir ketika sesuatu berjalan tidak sesuai seharusnya? Sama seperti kekesalanmu saat kau melihat insta story yang isinya hanyalah kebodohan-kebodohan dari yang temanmu bagikan?

Sepotong kalimat simple dari sahabat lama yang wujudnya seperti boomerang karena mampu membolak-balikkan pikiranku tentang masa lalu-masa depan yang membuatku sadar sudah seberapa individualisnya aku dalam menjalani hari sampai saat ini. Kalimatmu membuatku selalu terngiyang-ngiyang, dan terus berputar seperti gasing, sibuk mencari jawaban dan menentukan langkah padahal masih tetap berada di poros yang sama tak seinci-pun bergerak sesuai dengan yang dipikirkan.

Sampai-sampai kalimat klise yang selalu menjadi tempat persembunyian bagi seorang pembual besar pun harus kuucapkan untuk ke-seribu kalinya. "Mulai tahun ini aku harus menjadi lebih baik lagi, jauh lebih baik, lebih dalam lagi mengabdi, lebih banyak berpikir, mencoba kritis, aku akan berusaha jadi lebih baik dari tahun ini."

Bersabarlah, tunggulah aku wahai mimpi-mimpiku yang idealis jika tiba waktunya aku akan menjemputmu dan membawamu pulang lalu kita rangkai cerita manis ketika aku berjuang untuk mendapatkan dirimu.
Previous
Next Post »