Terbebas dari Mantan



Mantan itu pelengkap hidup. Ibarat indomie, dia yang jadi micinnya. Ibarat sayur dia yang jadi mangkoknya. Hidup lo belum menantang kalau belum ada mantan yang neror mendadak curhat.

Mulai awal Juni sampai pertengahan Agustus, hidupku tak lagi tenang. Main Dota terasa suram, belum lagi tiap malam harus telponan. Bukan sama pacar, tapi sama mantan.

Buat lo yang belum tau ceritanya, baca nih.

Semenjak putus, seperti abg labil pada umumnya, tak ada kedekatan diantara kami berdua. Bisa dibilang pun kami bermusuhan. Saling membuka aib pasangannya masing-masing. Begitulah seterusnya.

Dari awal semester dua sampai sewaktu pengumuman kelulusan pun belum ada kata damai. Kami berdua sibuk memamerkan kemesraan kami dengan pasangan masing-masing. Dia sibuk foto-foto dengan pacar barunya dan itu tepat di depan wajahku, tentu aku gak mau kalah sibuk pamer foto-foto dengan setiap teman wanita maupun adek kelas yang melintas. Rasa cemburu yang membakar secara gak langsung membuat kami suka pamer-pameran kemesraan, seperti bocah yang baru aja dibeliin mainan baru.

Kisah cinta yang penuh kebodohan di masa putih abu-abu selalu dapat menghadirkan tawa dari masa lalu.

Semenjak putus kita sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sibuk bermain dengan teman sekelasku, dia juga demikian. Untung saja, kelas kita berdua letaknya berjauhan. Kelasnya terletak tepat di depan lapangan upacara dan kelasku letaknya jauh di sudut sekolah. Satu lorong yang ada di samping kelasnyalah yang menjadi jalan bagiku dan yang lainnya menuju ke kelas.

Untung saja letak kelas kami berjauhan. Rasanya tak terlalu berat, mencoba pulih pun dirasa cepat. Tak harus setiap hari saling bertatap muka yang otomatis membuatku lebih gampang melupakannya.

Awal diputusin itu memang rasanya getir sakit gak karuan. Sampai-sampai waktu itu aku selalu dengerin lagu dari The Rain: 'Terlatih Pata Hati'. Tiap ada waktu kosong aku selalu dengerin lagu itu. Lagu itu sukses menghiburku, setidaknya dalam beberapa menit. Liriknya yang dalam dan yang paling nancep kadang buat aku senyum-senyum sendiri.

Tiap kali nyanyiin lagu ini ada beberapa baris yang menjadi favoritk yaitu:

Lama tak kudengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tau
Terkadang dia juga rindu

Suatu saat lirik ini pasti akan terjadi. Aku yakin suatu saat akan ada masa dimana orang yang paling parah memberi luka akan rindu dengan yang diberi. Dia pasti bakal butuh kita. Aku selalu yakin itu.

Hubungan kami berdua masih cukup panas waktu itu. Sampai pada ketika kami sudah menjadi mahasiswa di Universitas dan Institut yang berbeda.

Lama tak kudengar kabarnya, aku pun iseng ngucapin selamat ulang tahun di hari ulang tahunnya melalui pesan. Gak butuh waktu lama, selang beberapa menit dia pun membalas dan mengucapkan terimakasih.

Aku gak tau apa alasan utamaku melakukannya. Betul-betul spontan.

Semenjak saat itu, kami berdua jadi sering ngobrol, setidaknya seminggu sekali atau dua kali. Memang benar, waktu dan jarak memang bisa menjadi obat bagi orang-orang yang terluka namun racun bagi mereka yang sedang menjalin hubungan. Karena jarak itu sendiri adalah musuh bersama dan waktu adalah racunnya.

Hubungan kami berdua berubah menjadi lebih akrab dari sebelumnya. Meskipun tak selalu berkirim pesan setidaknya dendam masa lalu sudah terhapuskan semenja saat itu. Satu ucapan ulang tahun konyol ternyata menjadi obat bagi hubungan kami berdua.

Karena dendam lama sudah terselesaikan aku pun mulai terbiasa menganggapnya sebagai teman. Bahkan aku menawarkan diri untuk membantunya jika dia ada masalah atau hanya menjadi teman curhatnya jika dia tak bisa menemukan satupun orang yang mau mendengarkan ceritanya.

Darisitulah semua ini bermulai.

Tiap kali galau, tiap kali punya masalah entah itu dengan teman ataupun pacarnya dia selalu ngadu dan curhat ke aku.

Aku sih oke-oke aja kalau cuman diajak curhat, tapi lama-kelamaan rasanya beda. Curhatnya bukan lagi menjadi suatu hal yang jarang, melainkan sering. Dia pun mulai curhat masalah-masalah yang menurut aku itu gak penting sama sekali untuk dibahas.

Bukannya gak suka untuk dijadikan teman curhat oleh mantan, tapi aneh rasanya. Meskipun udah lama berpisah, tetap aja, satu kata "hai" darinya itu terkadang bisa membutakan segalanya. Perasaan kesel, bahagia, yang diiringin dengan semua kegetiran menyelimuti hati. Rasanya semua perasaan ini pernah terjadi.

Apalagi ketika hari itu entah secara sengaja ataupun iseng belaka dia bilang ke aku kalau,

"Gimana ya Zal kalau sendainya sekarang kau itu masih jadi pacar aku.."

"Jangan-jangan kau pulak nanti yang jadi JODOH aku.."

Benteng perasaan yang sudah kubangun selama bertahun-tahun pun runtuh begitu saja. Kalimat-kalimat tololnya yang tadi bisa saja membuatku gila.

Semakin sering mendengarkan curhatnya, tanpa sadar, seolah dia menarikku ke dalam masa-masa dimana semua kegalauannya itu masih menjadi masalah antara AKU dan DIA. Dia sukes menarikku mengulangi kehidupanku 4 tahun yang lalu. Saat itu aku jadi manusia yang super bodoh. Disaat orang bersiap berjalan ke depan, aku sibuk tertarik arus lalu mundur 4 tahun ke belakang. Masuk menuju kehidupan masa SMA ku yang penuh kebahagiaan dan canda tawa. Inilah salah satu daya tarik sekaligus candu yang selalu aku hindari dari dirinya. Tapi tak bisa, aku sekarang tak lebih dari temannya, harusnya aku lebih bisa mengatur semua perasaan. Aku tak mau lagi bila harus jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kabar terakhir yang aku liat, maaf, kabar terakhir yang dia update di instagram storinya tadi siang, aku bisa liat kalau dia baru aja ngucapin selamat ulang tahun ke pacarnya (yang juga temen deketku dulu).

Kini sudah sebulan kami tak ada komunikasi. Bukan tidak ada, lebih tepatnya, sudah hampir sebulan aku sengaja memutus komunikasi dengannya. Bukan tak mampu lagi menampung curahan hatinya, tapi, aku gak ada alasan lagi untuk membalas pesan-pesannya dan jujur aku juga kehabisan kata-kata untuk membalas semua itu.

Tidak ada lagi yang ingin kusampaikan. Niat balas dendam yang dulu selalu membara, sudah terkubur dalam-dalam, dan semuanya padam. Aku ngelakuin ini sengaja bukan tanpa alasan.

Semenjak sering menjadi tempat curhatnya, secara gak langsung dia udah ngisi hari-hariku yang banyak waktu kosongnya. Dia selalu menemani meskipun itu dengan curhat-curhat tentang pacarnya yang menyebalkan. Aku tak mau dia menjadi bagian dari waktu-waktuku. Kelamaan bersama, akan sulit melepas di akhirnya, itulah yang aku yakini sampai saat ini. Kelamaan menggenggam membuat kita sulit melepas.

Dengan memutus komunikasi satu arah, semoga aja kami mampu menjalani hari-hari seperti biasa. Karena seharusnya pun, kata 'AKU', dan 'KAMU' diantara kita seharusnya tak pernah ada. Itu sudah mati dari 4 tahun yang lalu. Dengan tidak adanya pesan masukmu yang menerorku, akhirnya bisa membuatku sedikit bernafas lega.

Aku akan kembali seperti Rizali yang biasanya. Tak terpaut masalah hati apalagi curhat-curhat galau dari mantan sendiri.

Punya cerita mengesalkan dari mantan? Jangan lupa share di kolom komentar ya!
Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
Thursday, 14 September, 2017 delete

Yakin nih udah terbebas? Hahaha. Gw aja udah setahun sebulan belum move on even mantan gw yang mutusin, selingkuh dan dia sekarang udah punya pacar baru.

Soal cinta emang bener bikin bego, kalau tiap putus selalu musuhan, lingkungan makin sempit. Dan itu yang bikin gw komitmen, gw ga mau pacaran lagi ;)

Reply
avatar
Thursday, 14 September, 2017 delete

wadaw korban-korban cinta stadium 4 nih. mau dibawa ke RS? butuh medis? hahaha

alhamdulillahnya aku udah gak ada perasaan sama sekali sama dia. dan hubungan kita berdua meskipun udah putus tetep deket kok, cuman akunya aja yang sengaja menghindar. makasih.

Reply
avatar
Agung Rizq
AUTHOR
Saturday, 16 September, 2017 delete

Enak ya sudah terbebas dari mantan. Jadi inget temen gue yang gak bisa terbebas dari mantan karena urusan utang-piutang.

Kalo gue, masih belum bisa move on, nih. Entah kenapa, kemajuan jaman membuat proses move on gue menjadi terus gagal. Kalo buka instagram, liat instastory mantan-kemudian stalking-lalu galau, gitu aja terus sampe gue menemukan yang baru.

Apalagi kalau mantan tiba-tiba ngechat, ngechat disini maksudnya seperti ngechat di WA, ya. bukan ngecat tembok. Balik lagi, apalagi kalo dia ngechat, "Apa kabar?." Pengen banget bales "Aku lebih baik tanpa kamu", tapi apa daya, hanya bisa membalas dengan kata "baik."

lho, kok jadi curhat gini.

Reply
avatar
Saturday, 16 September, 2017 delete

HAHAHAHA aku juga sempet ngalamin yang temen lo alamin. Alhamdulillah tapi kelar semuanya kok meskipun rada malu wkwkwk.

"Hai" setitik, rusak move on sebelanga.

Reply
avatar
Tira Soekardi
AUTHOR
Thursday, 21 September, 2017 delete

waduh salin memanasi ya, itu membuat cemburu mantan

Reply
avatar
Friday, 22 September, 2017 delete

Pasti ada masa dimana putus, musuhan, deket lagi, pengen balikan dan tiba-tiba merasa bego sendiri, akhirnya memilih melepas dan sedikit silaturahmi daripada terjerat kembali. HAHAHAHA fase pacaran kali gitu ya.

kalo gua punya pengalaman eh udah berhasil moveon tautau mantan pindah kostan jadi tetanggaan, kan kampret -_-

Reply
avatar
Friday, 22 September, 2017 delete

move on yang tertunda hahaha tiap hari bakal jumpa mantan

Reply
avatar