Bajingan yang Bernama "Isbal"

illuminati wahyudi confirmed!
Begitu banyak cerita yang sudah kutulis di blog ini mulai dari kisah cinta masa SMA, sahabat, maupun cerita kebodohan yang masih kulakukan sampai sekarang. Namun semua cerita tersebut mengangkat latar belakang waktu yang sama, ketika aku masih duduk di bangku SMA. Jarang banget aku bercerita mengenai ketololanku selama kuliah, sahabat-sahabat bajingan yang kumiliki, apalagi kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang pernah kualamin selama menjadi mahasiswa.

Semuanya bermula ketika aku duduk di semester satu tepatnya sewaktu aku berada di kelas B. Waktu itu aku belum mengenal siapapun, yang kutau hanya papan tulis warnanya putih, spidol warnanya hitam, dan bangku kuliah berbeda dari bangku SMA. Seiring berjalannya waktu, seisi kelas sudah mulai akrab mengenal satu sama lainnya. Mungkin disitulah pertama kali aku mengenalnya.

Namanya Isbal, Aku biasa memanggilnya adek, bisa juga dipanggil iron man. Makanan favorit nasi, minuman favorit air putih.

Tulisan kali ini kucoba untuk tidak mendramatisir setiap adegan dan ceritanya karena ini bukan cerita romantis, bukan juga cerita tentang sepasang lelaki yang saling memadu kasih, aku gak mau kelihatan seperti seorang homo hanya gara-gara ini.

Sampai sekarang aku masih bersahabat dengan Isbal. Persahabatan kami bukan persahabatan zaman sekarang, yang menghabiskan waktu bareng, share jalan-jalan bareng di insta story, kami tidak seperti Anya Geraldine dan Awkarin. Tak ada hal mewah dan drama yang harus ditambah dalam persahabatan. Karena Aku dan Isbal lahir dari latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, maka dari itu kami sadar betul, hal mewah bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan (sebenarnya sih karena kami gak punya duit).

Kami berdua seperti sepotong kaos singlet dan celana dalam. Keduanya harus ada, kurang komplit rasanya kalau harus dipisah. Jika pergi ke kampus Isbal mengendarai motor, maka aku berjalan kaki. Jika makan Isbal lauknya tempe, aku makan dengan telur. Kami emang kere, tapi punya mimpi yang sama, memiliki istri seperti Luna Maya.

Banyak temen yang nanya, "Eh masukin cerita aku ke blog dong."

"Lo bisa gak buatin cerita untuk kisah cinta berdua?". 

Bukan gak bisa, belum ada kesempatan untuk nulis cerita tentang temen yang lainnya. Maka dari itu aku mulai dari orang yang terdekat dulu. Doakan saja, niat untuk menulis cerita tentang orang-orang terdekat dan teman ini bisa terus berlanjut, sampai nanti tiba giliran ibuk-ibuk penjual nasi uduk yang tukang gosip, dan bapak kos yang suka ngerumpi bisa disampaikan.

Selama menjadi mahasiswa, kehidupanku tak semulus seperti SMA semuanya serba susah. Satu hal yang paling mengerikan tentang kuliah, semuanya orang asing dan kau hanyalah salah satu dari mereka. Kita tak bisa mudah memiliki teman seperti dulu ketika SMA. Karena ketika kau jadi mahasiswa, kau dianggap sudah dewasa, maka dari itu memilih temanpun harus yang tujuannya sama. Semuanya berubah menjadi begitu realistis ketika kau menjadi mahasiswa.

Ketika kau ingin mencari teman satu hal yang harus kau ingat, carilah teman yang memiliki masalah yang sama dan ditempa dengan keadaan yang sama pula. Simplenya sih, yang pernah ngerasain suka-duka bareng. Dengan begitu, lo sedikit-banyaknya bisa mengetahui bagaimana sifatnya dan kedepannya mencoba untuk memahaminya.

Teman itu seperti kendaraan yang berlalu lalang, datang dan pergi silih berganti. Lo sebenernya bisa punya banyak temen, tapi yah temen-temenan. Ngumpul pas lagi banyak uang, pura-pura amnesia waktu ditagih utang, padahal 10 menit yang lalu baru share insta story makan bareng di restaurant. Semoga orang-orang seperti ini tititnya pindah ke mulut, soalnya udah gak ada kemaluan.

Mungkin terhitung sudah tiga tahun aku bersahabat dengan Isbal. Sifat jelek dan baiknya sudah. Menurutku ada beberapa perbedaan ketika kau bersahabat dengan seorang pria.

Bagi kita, yang namanya sahabat gak mesti selalu bareng. Ke kampus gak harus bareng, jalan-jalan gak harus bareng, dan yang paling penting kalau berak jangan sampai bareng juga. Terkadang ada masa dimana kita itu pengen sendiri, nah hal itu pula yang kami junjung bersama. Ada kalanya kesendirian itu gak boleh dinikmati berdua biar saling menghargai privasi aja.

Ketika di suatu acara misalnya, Aku berada di divisi acara, sedangkan Isbal di medis, walaupun acaranya sama, kami berdua mencoba untuk profesional, menjalankan tugasnya masing-masing sampai selesai, barulah kita bisa ngobrol bareng lagi.

Tak terhitung selama tiga tahun bersahabat, sudah berapa kali kami bertengkar bahkan untuk masalah yang sepele sekalipun.

Misalnya: siapa yang lebih kuat superhero Marvel atau superhero DC.

Isbal seorang pecinta Marvel berbeda denganku yang lebih suka DC. Untuk saat ini Marvel Cinematic Universe memang berhasil membuat film-film keren untuk masing-masing superheronya. Hal itu jugalah yang sering kami debatkan berdua.

Tiap kali Isbal ngobrol bahas Marvel, rasanya seperti dilebih-lebihkan, sebagai pecinta DC Comic, itu membuatku geram sendiri. Aku pun gak mau kalah ikutan bahas soal film-film superhero DC Comic. Sebagai orang yang dari kecil nonton serial batman, menurutku film-film superhero marvel tidak lebih baik dari DC.

Lo bisa bayangin gimana rasanya waktu kecil disuguhin film Batman.



Keren gila! 

Sampai-sampai waktu aku kecil, aku bermimpi, bila besar nanti mau jadi Batman. Menolong yang lemah, memberantas kejahatan, dengan kolor hitam yang selalu melekat di luar celana padahal seminggu yang lalu aku masih bermimpi pengen jadi Power Rangers.



Untuk saat ini, mimpi untuk menjadi seorang Batman bukanlah hal yang realistis, tapi gak tau kalau tahun depan. Aku gak tau gimana jadinya jika harus menggunakan seragam serba hitam, ada sayap kelelawar di belakangnya, dan memakai kolor hitam di luar celana seperti yang Batman lakukan. Seorang laki-laki berumur 21 tahun berkeliaran tiap malam dengan masih menggunakan kolor di luar celananya, membasmi kejahatan, menolong yang lemah, mungkin terlihat seperti seorang phedofilia yang mencari mangsa.

Perkelahian pun muncul diantara kami berdua. Kami mulai sibuk membandingkan superhero marvel dan DC. Mulai dari:

Spiderman vs Flash. 

Batman vs Iron man. 

Superman vs mamang-mamang tahu bulat. 

Dan akhirnya kami berdua sepakat, diantara superhero Marvel dan DC yang paling kuat ialah Allah SWT. Karena kami sadar, kalau bukan karena Allah, Stanley selaku komikus marvel dan Paul Levitz selaku komikus DC, tidak mungkin ada di dunia.

Menurutku harus ada satu kata yang lekat di benakmu ketika memilih bersahabat dengan seseorang, 'berantem'. Salah sangka, salah ngomong, itu hal yang wajar. Kalau emang lo temen deket maupun sahabat, pasti pernah setidaknya satu kali lo bertengkar dengannya.

Emang lucu, bertengkar dapat mengakrabkan keduanya. Hidup kadang berjalan dengan cara yang unik, banyak masalah yang harus diselesaikan dengan cara yang tidak normal, bertengkar salah satunya. Ketika lo bertengkar, disitulah lo bisa memahami sifat aslinya yang mungkin selama ini masih dipendam.

Gak kehitung, berapa kali Aku berantem dengan Isbal. Mulai dari masalah kecil, sampai masalah yang besar sekalipun. Tapi ya gitu, hanya berantem main-main, seperti bocah yang sedang berebut mainan. Gak mau ngalah, begitu bosan, langsung baikan.
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Dilasindy
AUTHOR
Saturday, 11 November, 2017 delete

Hahaha. Aku dulu suka tuh deskripsi temen2 pas sma ku. Tapi postnya uda aku hide sih.
Btw salam kenal yaa, main ke blog aku dong!😋

Reply
avatar
Saturday, 11 November, 2017 delete

hahahha iya salam kenal, taruh aja linknya ntar dikunjung balik kok.

Reply
avatar

instagram