In Memorial Uzumaki Zeligozi Manggala

Pecinta anime. Hobinya download anime, nonton, makan, seharian di kamar. Main game, koleksi action figur, gabung fanbase-fanbase pecinta anime, mengaku memiliki waifu (istri dari karakter anime yang ditonton). Jarang bersosialisasi, seperti terkucilkan, akhirnya menyendiri.

Kalian semua pasti punya temen kek gitu kan? Temen yang hobinya anime. Bahkan bisa dibilang bukan hobi lagi malah seperti gaya hidup.

Namanya: Uzumaki Zeligozi Manggala

Lahir di desa konoha.

Keturunan langsung Dewa Zeus.

Kenal sama Zelig mulai dari semester satu. Kita berdua sekelas dan Zelig juga berada di program studi yang sama denganku. Berawal dari salah satu teman yang mengejek-ejek Zelig karena terlihat terlalu pendiam, kita jadi tahu Zelig itu siapa. Orangnya super kalem, sangking kalemnya udah mirip Limbad. Kalau di ajak makan bareng, jawabnya: ngangguk.

Ditanya udah ngerjain tugas apa belum, geleng-geleng.

"Kok lu diem mulu sih?

"....." ngangguk-ngangguk.

Sepertinya Zelig saudara jauhnya Limbad. Bedanya, kalau Limbad bawa burung hantu di pundak, Zelig lebih merakyat, gak bawa apa-apa. Bisa dibilang, Zelig Limbad versi miskin. 

Aku baru kenal banget sama Zelig itu ketika semester tiga. Kita berdua sama-sama ngambil salah satu mata kuliah yang ngulang. Karena kelas ngulang mahasiswanya lebih dikit dari kelas biasanya, seisi kelas jadi lebih mudah akrab termasuk dengan Zelig. Tapi tetap, Zelig gak pernah mau bicara. Masih menjaga image Limbad versi miskinnya.

Sampai ketika, pas aku minjem handphone-nya. Pas ku buka, lock screen tampilan layarnya gambar karakter anime yang kebetulan aku juga tau siapa karakter tersebut. Dari sini aku udah mulai curiga, jangan-jangan ini bocah otaku (otaku: sebutan untuk orang yang memiliki hobi tentang anime). Aku jadi punya alasan kalau mau main-main ke kosannya.

Sewaktu semester satu dan dua aku juga udah pernah main ke kosannya. Tapi ya gitu, kami berdua masih belum terlalu kenal gak seperti sekarang. Jadi ketika main ke kosannya, cuman diem-diem an, saling bertukar pandang dan lima belas kemudian masih tetap begitu. Jangan sampai timbul benih-benih cinta diantara kami berdua karena terus berpandang-pandangan. astagfirullah al'adzim.

Percayalah, satu hal yang buat kalian kesel kalau pertama kali bertemu Zelig itu ke-kaleman-nya. Lo mungkin berpikir kalau orang yang pendiam itu keren, tapi khusus spesies yang satu ini gak. Lo bakal dibuatnya kesel. Ke-keselan lo diread doang chatnya sama gebetan, gak lebih kesel ngobrol sama Zelig. Mungkin gebetan lo masih kalah cuek dibanding Zelig.

Ngobrol sama Zelig itu udah macem ngobrol sama kerang ajaib spongebob.


Zelig apa boleh aku makan makanan ini?

Tidak.

Yang itu bagaimana?

Mungkin boleh, tapi tidak soalnya aku masih suka.

Zelig boleh kah saya melukaimu dengan membakar hardisk laptopmu yang isinya semua anime?

Jangan. Aku masih suka.

Boleh kah saya membunuhmu?

Boleh. Aku lagi pengen mati.

Lo bayangin, PENGEN MATI, ANJIR.

Inilah yang bakal lo hadapin ketika ngobrol dengan Zelig, manusia yang terlahir dari ampas kopling. Jawabannya super singkat dan tidak bermanfaat.



Makin kesini, semakin sering aku main-main ke kosannya aku jadi semakin paham dengan sifat Zelig. Rasa canggung sewaktu pertama kali main ke kosannya pun udah hilang. Bahkan aku juga kadang numpang tidur di kosannya kalau lagi terdesak.

Zelig sudah sedikit membuka diri. Ngobrolnya udah gak irit-irit lagi. bahkan topik-topik tolol pun kadang kami bahas.

Pernah ketika habis makan di kosannya, pas lagi kenyang-kenyangnya, orang kan kalau habis makan lalu kenyang itu pasti agak-agak goblok gimana gitu, agak tolol, jilat-jilat ubin, Zelig beda. Dia teriak-teriak.

Teriak-teriak, "AHHHHHH, AKU PENGEN MATI!!!"

Kalau sampai di denger tetangga yang lain  kan bahaya bisa di keroyok massa, disangka melakukan tindakan asusila, pencabulan anak kos.

Tapi gak semua tingkahnya Zelig menjengkelkan. Ada kalanya orang-orang yang disekitarnya yang masih belum mengerti siapa dia, juga bertingkah yang lebih menjengkelkan dari dia. Zelig sering di diskriminasi.

Seperti kasus yang satu ini. Mbak-mbak Indomencret yang hobi menghina, enggak melayaninya duluan seperti yang lainnya, dan dipaksa harus ngomong dengan suara yang keras biar kedengaran. Suara Zelig emang halus, udah mirip cewek-cewek Jepang kalau bicara. Mendesah halus, ikeh-ikeh kimochi gimana gitu...

Jadi pas bayar di kasir mbaknya maksa dia untuk ngomong lebih kuat. Otomatis Zelig gak mau, Dan pelayannya langsung ngetawain. Lo bayangin dijadikan objek bercandaan di depan banyak orang yang gak lo kenal. Untuk yang kedua kalinya mbaknya nyuruh ngomong lebih kuat, Zelig masih sama, masih diem. Makanya tiap kali aku minta tolong Zelig beliin makanan di indomencret tersebut, dia langsung nolak, minta pindah ke indomencret yang satunya lagi yang lebih jauh.

Aku juga kadang heran sama orang yang bekerja di bidang pelayanan. Ngakunya melayani, tapi enggak bisa bedakan yang mana bahan candaan yang bagus dan enggak.

Ada lagi satu hal yang lebih gila tentang Zelig. Zelig TIDAK TAKUT MATI, BAHKAN DIA MEMINTA UNTUK MATI.

Lo bisa bayangin gimana seremnya ketika temen di samping lo ngomong "Aku pengen mati.". Pasti lo kikuk, canggung, ini orang kenapa ya sambil waspada menatap sekeliling ruangan manatau ini  semua jebakan. Bagaimana kalau yang dia bilang itu hanya perumpaan, maksud tujuan sebenarnya itu kita. Kita yang menjadi korbannya yang mati.

"Lo, serius pengen mati Zel?"

"Iya, aku sudah bosan hidup di dunia."

"Dunia ini busuk."

"Gak adil"

"Membosankan!"

"Argghhhhhhh," teriak-teriak gak jelas.

"Yaudah sini aku bunuh."

Pas, aku siap-siap, eh, dianya ngomong, "jangan..jangan"

"Aku mau mati, tapi aku gak mau sakit. Aku gak mau ngerasain sakitnya."

Arghhhhhh." kembali teriak-teriak gak jelas lagi.

Dikira mati kek makan rendang, gurih.

Jika lo berpikir kegilaan Zelig hanya habis sampai disini, lo semua salah kaprah. Masih banyak kegilaan sangking banyaknya mungkin aku juga ikut gila dibuatnya.

Satu hal lagi yang aku ingat tentang Zelig: Zelig gak mau nikah.

Menurutku,  orang yang paling ngenes hidupnya di dunia adalah orang yang gak kepengen nikah. Tapi lebih ngenes lagi orang yang hari ini nikah, besoknya kiamat. Belum sempat buka kado, eh, Dajjal udah keluar menjajah bumi.

Gak usah heran lagi kalau sama Zelig yang hidupnya sudah di abdikan kepada anime. Pengabdi anime, bisa dibilang 24/7 anime is everyday.

Pengen mati, iya.

Gak punya temen, iya.

Suka makan rendang, iya.

Nonton anime, UDAH PASTI!

Kalau nikah?

Jadi aku pernah iseng nanya pas lagi nonton anime di laptopnya, "Nanti kalau udah lulus kuliah lo langsung nikah nggak Zel?"

"Nggak." Singkat, padat, tidak bermanfaat. Oh, mungkin dia gak mau buru-buru kali.

"Nggak mau langsung nikah tapi nyari kerja dulu kan?"

"Nggak dua-duanya. Aku gak pengen nikah."

Oke, disini aku udah mulai takut. Jangan-jangan karena aku sering main ke kosannya dia jadi mulai suka sama cowok, suka sama aku. Pikiran-pikiran tolol mulai masuk ke kepalaku, tanpa sadar perlahan aku mulai menjaga jarak. Aku langsung pindah posisi ke dekat dapur dan masang aba-aba membela diri. Kali aja pas nanti dia nyerang, aku bisa jadikan panci dan wajan untuk bertahan. Karena aku pernah ikut latihan bela diri, hal yang bisa ku lakukan ketika dia nyerang hanyalah menggoreng wajahnya di wajan lalu mengaduknya dengan gagang sutil.

Masuk ke liburan semester genap. Waktu itu aku masih menghabiskan waktu liburanku di Jogja dengan teman-temanku. Di liburan semester genap ini biasanya diadakan kuliah sp (semester pendek). Dengar-dengar sih, Zelig ngambil sp, itu kabar terakhir yang ku dengar tentangnya.

Pulang dari Jogja, dengan keadaan yang benar-benar menyedihkan. Kehilangan salah satu novel yang baru kubeli, perkuliahan yang dimulai 5 hari lagi. Liburan-liburan yang membahagikan sebentar lagi berlalu. Penderitaanku sebentar lagi tiba: masuk kuliah.

Seperti biasanya, registrasi daftar ulang, perwalian dengan dosen wali, selalu menjadi hal yang paling ku benci. Ribet. Jadi selama tiga hari dari sisa 5 hari lagi liburan sebelum memulai semester baru, aku sibuk mondar-mandir kampus-kosan hanya untuk mempersiapkan berkas demi daftar ulang.

Belum lagi bersih-bersih kamar yang udah ditinggal selama dua bulan. Bau apek, debu menggumpal, baru masuk udah sukses buat orang asma. Bau apeknya lebih bau dari bulu ketiak Agung Hercules. Belum lagi bangkai-bangkai serangga yang belum teridentifikasi berserakan di lantai. Sekarang kamarku udah mirip hutan amazon. Bedanya gak ada harimaunya.

Selesai registrasi, akhirnya aku bisa santai lagi. Nah, besoknya rencananya mau main ke kosannya Zelig. Besoknya aku pergi ke kosannya, ya seperti biasa harus ada usaha ekstra membuatnya membuka pintu kosan. Terompet sangkakala penyeru kiamat pun mungkin gak sanggup lagi membuatnya terbuka. Selain pendiam, ini bocah kalau tidur udah macem orang mati. Gak ada niatan pengen bangun.

15 menit gedor-gedor pagar kosan dan teriak-teriak manggilin dia, akhirnya aku nyerah juga. Kayaknya gak ada orang di kosannya mungkin dia lagi belanja atau keluar. Karena gak ada agenda apalagi hari itu selain ngunjungi Zelig, aku pun langsung balik ke kosan. Liburan sisa dua hari lagi. Harus dinikmati.

Awal perkuliahan pun dimulai. Kalau masih awal-awal kuliah masih bisa santai, banyak jadwal yang bentrok, harus penyesuaian jadwal terlebih dahulu. Bertemu dengan teman-teman lainnya setelah berpisah beberapa bulan ternyata asik juga. Mereka kelihatan berbeda, mungkin perasaanku aja soalnya masih awal bulan entar akhir bulan balik lagi miskin kayak biasa. Aku sih berharap, selama liburan ada salah satu teman yang nikah pas datang ke kampus udah nenteng anak tapi gak mungkin juga, liburan tiga bulan masa' tiga bulan udah punya anak. Itu anak apa balon? Bisa lahir cepat. Iya, aku tau kalau aku bodoh.

Sehabis pulang kuliah, aku langsung pergi ke indomaret beli mie kalau beli rendang uangnya gak cukup. Mie goreng rasa rendang pun jadilah, yang penting ada rendang-rendangnya. Pas keluar dari Indomaret, aku ngerasa kek ada yang kurang, apa ya? Kembalian, pas. Kunci motor, ada. Kolor, masih pakai. Cewek, tadi aku ke Indomaret sendirian, jadi gak mungkin bawa cewek, sorry.. sorry. Oh, iya! Singgah ke tempat Zelig!

Jarak Indomaret dengan kosannya Zelig gak terlalu jauh paling hanya beberapa menit.

Seperti biasa, harus ada usaha ekstra untuk membuat dia membuka pintu kamarnya. 

"Zelig...!!!"

"Zelig...!!!"

"Oi, Zel...?!"

Beberapa menit kemudian masih belum ada jawaban, Oke, paling dia juga lagi keluar.

Dua hari kemudian, pas lagi istirahat jam kuliah, kebetulan lagi nongkrong sama temen yang kosannya juga deket sama kosan Zelig. Iseng aja nanya,

"Gimana kabarnya Zelig, masih kuliah disini kan?"

"Nah, lo belum tau kalau dia udah pindah. Beberapa minggu yang lalu dia udah balik ke Padang. Aku aja gak tau, tau-tau pas keluar kamar, udah ngelihat dia sama Ibuknya gotong barang-barang macem mau pindahan."

Sama seperti sebelumnya, seperti yang pernah aku dengar dulu. Zelig sama seperti teman lainnya. Keluar karena gagal dalam perkuliahan.

Langit-langit kantin mendadak terasa lengang. Semua suara berubah hening. Tumbuh perasaan aneh di hati.

Masih dengan pembicaraan yang sama, namun timbul beberapa pertannyaan?

"Kenapa dia gak bilang atau setidaknya pamit?"

Aku lupa kalau di dunia tiada kata pamit untuk orang yang gagal apalagi sampai melepas pulang orang tersebut karena kegagalannya.

Entah bagaimana rasanya perasaanku saat itu. Perasaan apa yang ku rasakan ketika itu, bagaimana raut wajahku. Aku gak bisa menggambarkannya satupun. Ada secercah perasaan janggal yang sampai saat ini aku sendiri susah untuk menjelaskannya ketika tau teman yang dulu sama-sama pernah berjuang, tau-tau udah keluar.

Ini bukan pertama kalinya, ini udah yang kesekian kalinya aku merasakan perasaan yang sama "kehilangan teman". Ini hanya menambah koleksi dari daftar teman-teman yang hilang, khususnya Zelig. Orang yang paling gak mencolok dan yang paling gampang dilupakan.

Zelig.

-----
Tulisan ini di dedikasikan untukmu Zel.
Agar kau tak hilang dari sejarah dan cerita kalau kita pernah berjuang bersama-sama di masa muda.
Meskipun kau memang orang yang pantas dilupakan oleh siapapun.
Sebagai teman, rasanya tak bijak bila aku harus ikut melakukannya.
Maka dengan ini semoga kau abadi Zel. Kau tetap ada.
Untuk mengingat Zelig sebagai teman, marilah bersama kita ucapkan: Al-Fatihah.

UZUMAKI ZELIGHOZI MANGGALA
(1997-2018)
Sehat Wal Afiat

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Ihsan Prawira
AUTHOR
Sunday, 28 January, 2018 delete

KEREN jal,teruskan ngeblognya, seneng gw bacanya :ng

Reply
avatar
Wednesday, 31 January, 2018 delete

this is when your kadiv had commented on your blog -__-

Reply
avatar