DOSEN AKHIR ZAMAN!


Di postingan sebelumnya aku udah pernah bilang kalau proses daftar ulang adalah proses yang paling ribet. Buat lo yang mau tau kelengkapannya bisa klik baca disini.

Memang jadi persyaratan wajib kalau sebelum masuk ke semester baru kita harus mengikuti proses daftar ulang dan aku juga tau seberapa pentingnya proses tersebut. Ada beberapa hal yang aku gak suka dari proses daftar ulang ini. Ribet, mondar-mandir, susah nemuin dosen terkait. Kalau bisa diukur tingkat kebenciannya kira-kira selevel: Netizen Indonesia, lah. Karena levelnya Netizen Indonesia itu masih jauh diatasnya Mas Young Lex dan Mba Awkarin. Lebih sampah dan busuk dari pupuk kompos.

Nah, dibalik keribetan proses daftar ulang itu semua, ada satu hal yang paling menonjol yang paling mengganggu kestabilan mahasiswa dan perekonomian masyarakat Zimbabwe sekitarnya. SUSAHNYA MENDAPAT TANDA TANGAN DOSEN YANG BERKAITAN.

Rasanya udah terlalu basi kalau aku bilang dosen itu manusia setengah dewa yang tidak pernah bisa disalahkan. Basi banget. Terakhir kali aku lihat orang yang masih pake jokes seperti "Dosen itu manusia setengah dewa. dosen itu enggak pernah salah. Dosen selalu benar." besoknya meninggal. Diludahin warga sekampung karena terlalu garing.

Jadi ada salah satu dosen di program studiku Teknik Informatika sebut saja namanya Pak Anto. 

Nama lengkapnya: Anto bin Mujahidi
Gelar                  : S.S., M.S., SpongeBOB, calon almarhum dibelakangnya.

Jadi kalau digabungin, Anto bin Mujahidi S.S., M.S., SpongeBOB.

* S.S = Sarjana Super
   M.S = Manusia Super 

Berpenampilan dengan gaya yang sangat intelektual, ketika lo lihat lo langsung bisa tau betapa pintarnya dia. Sinar kepintarannya meluap-luap.

Satu hal yang ngeselin ketika lo berhadapan dengan beliau. Sangking pintarnya, ketika lo bicara, auranya seakan-akan berubah menjadi singa sedangkan lo hanyalah seekor domba yang menanti ajal untuk dimakan. Kepintarannya dapat melahap lo seketika tanpa lo sadar.

Bisa dibilang Pak Anto merupakan salah satu dosen terpenting yang ada di program studiku. Jadinya beliau sering sibuk antara mengajar dan mengurusi urusan prodi. Untuk selanjutnya program studi akan kusingkat menjadi (prodi) biar lebih singkat dan gampang ditulis. Maka dari itu ketika lo butuh sesuatu seperti tanda tangannya beliau, mintanya agak ribet. Selain beliaunya sibuk, juga kadang dipersulit.

Sebelum masuk semester ajaran baru, ada yang namanya proses daftar ulang. Nah, di proses tersebut sebagai mahasiswa, kita harus menyiapkan beberapa dokumen maupun berkas dan membayar uang kuliah. Intinya sih pada proses ini cuman bayar uang kuliah dan perwalian dengan dosen wali. Karena kalau gak bayar uang kuliah dosen mau beli makan pake apa? Apalagi kalau hidupnya masih sendiri belum punya istri bisa-bisa cuman makan indomie seminggu. 

Berkas yang dibutuhkan selama proses daftar ulang salah satunya adalah berkas yang nantinya digunakan untuk penangguhan uang kuliah. Penangguhan uang kuliah sendiri ditujukan untuk menunda pembayaran uang kuliah yang harusnya dilunasi pada tanggal yang telah ditetapkan. Nantinya ketika sudah selesai membayar uang kuliah, barulah bisa mengisi daftar mata kuliah yang mau diambil di semester ini. 

Itulah gunanya penanguhan uang kuliah, ketika lo belum bisa bayar uang kuliah pada waktunya, tapi lo tetap bisa mengisi daftar mata kuliah yang mau diambil. Dengan syarat harus mengisi alasan kenapa melakukan penangguhan, serta mengisi tanggal pembayaran yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi kita, lalu tanda tangan diatas materai 6000. Prosesnya emang mirip dengan proses perceraian.

Seminggu yang lalu, tepatnya hari senin tanggal 08 Janurari 2018 yang alhamdulillah masih belum kiamat. Aku bersama satu temanku pergi ke kampus untuk minta tanda tangan dosen demi surat penanguhan uang kuliah. Karena disetiap semester genap, orangtuaku memang selalu ngirim uang kuliah di bulan Februari sedangkan perkuliahan dimulai bulan Januari. Maka dari itu aku kali ini aku ikut penangguhan.

Hari itu kampus terlihat sangat sepi karena masih liburan masih ada sekitar 37.895 detik lagi sebelum masuk kuliah. Kau lah yang bisa menghitung tepatnya berapa detik lagi pokoknya sisa 14 hari lagi liburan sebelum masuk kuliah. 

Kampus sepi serasa hanya milik kami berdua. Kalau aja teman yang ada di sampingku sekarang perempuan, mungkin udah aku cium sangking romantisnya. Berjalan menikmati sepinya kampus dengan lembutnya hembusan angin kala itu, hijaunya pohon-pohon yang ada di sekitar kami, serta megahnya bangunan berwarna putih yang berdiri tegak di sekeliling kami seakan-akan berkata, "Kami gak akan hancur meskipun itu kiamat." padahal kenyataannya kalau kena hujan dinding langsung berlumut. Salahnya aja temanku yang ini laki-laki, jangankan nyium, menatap mukanya aja jijik.

Kami berdua memiliki tujuan yang sama hari itu. Meminta tanda tangan dosen untuk surat penangguhan. Sesuai kesepakatan, pertama aku temani dia terlebih dahulu minta tanda tangan ke dosennya lalu gantian. Pas sampai di ruangan dosen tersebut, dosen yang berkaitan katanya lagi keluar makan siang. Yaudah kami tunggu. Hampir satu jam, dosen yang kami cari tak kunjung juga datang. Mungkin dia lagi makan daging biawak jadi susah ngunyahnya. Yaudah, kami keluar, gantian dia yang menemaniku bertemu dengan dosen waliku untuk meminta tanda tangan.

Kami berjalan pindah dari Gedung B menuju Gedung C yang letaknya ada di sebelah Gedung A. Gedung B dan Gedung A saling berhadap-hadap an, sedangkan letak Gedung C ada di sebelahnya Gedung A. Kami pun berjalan menuju Gedung C tersebut.

Sampai di ruang prodiku, aku gak langsung masuk ke dalam karena ada pintu di depannya jadi harus dibuka terlebih dahulu. Kalau langsung masuk, berarti aku casper dong, bisa masuk nembus pintu. Sebelum mulai masuk baca doa terlebih dahulu biar dimudahkan prosesnya dan biar gak gugup nantinya karena yang mau ku hadapin ini adalah dua orang yang kaya ilmu yang setiap ucapan yang keluar dari mulutnya bisa jadi berkah juga kutukan.

Aku ketuk pintunya perlahan, lalu masuk. Ku awalin dengan kaki kanan melangkah terlebih dahulu, karena kalau pakai kaki kiri takutnya dosa. Dosen yang ingin aku temui duduknya persis lurus searah ketika pintu dibuka. Jadi ketika lo buka pintunya, lo langsung bisa ngelihat meja dan sosoknya.

Aku berjalan dengan menundukkan badan memberikan hormat dan langsung duduk di depan dosen waliku.

"Maaf pak. mengganggu waktunya. Saya ingin minta tanda tangan Bapak untuk surat penangguhan uang kuliah saya semester ini,"  kataku sambil menyodorkan sebuah map yang isinya surat tersebut.

"Oh, penangguhan, sebentar ya, saya ingin baca dulu alasannya kenapa." jawabnya.

"Silahkan pak," kataku.

"Disini kamu buat alasannya karena biaya untuk saat ini mau dialihkan untuk adik kamu yang sebentar lagi juga mau kuliah."

"Iya, pak." balasku.

"Emang mau kuliah dimana dia nanti?" tanya dosenku.

"Di Universitas Indonesia, pak." jawabku.

"Oh yaudah, sebentar ya, saya tanda tangani terlebih dahulu."

Beberapa detik kemudian, aku berhasil mendapatkan tanda tangan dosen waliku. Terimakasih pak yang telah memudahkan urusan saya. Aku pun langsung pindah untuk meminta tanda tangan Pak Anto yang duduknya persis berseberangan dengan tempatku saat ini.

"Selamat siang pak, maaf mengganggu waktunya."

"Iya, silahkan. Ada yang bisa dibantu?"

"Ini pak, saya mau minta tanda tangan untuk surat penangguhan uang kuliah," sambil menyodorkan map tersebut.

Selama beberapa menit Pak Anto memperhatikan surat penangguhan tersebut.

"Ini kenapa bisa seperti ini, ya?" tanyanya.

"Maaf pak, yang mana ya?"

"Kamu lihat yang ini, kenapa bisa ada kesalahan spasi di nama saya. Seharusnya kan nama saya sejajar dengan dosen lainnya. Kenapa ini bisa jadi lebih tinggi seperti ini?"

"Maaf pak, itu tadi saya terburu-terburu ngerjainnya. Jadi karena waktu penangguhan sebentar lagi ditutup saya buru-buru langsung kesini untuk menemui Bapak. Lupa kalau ada salah spasinya." jawabku.

"Kamu ini bagaimana sih? Kuliah di Teknik Informatika, ngasih spasi aja masih salah. Gak guna kamu jadi anak Informatika!" balasnya.

Rasanya aku seperti disidang. Bukan, bukan seperti sidang di pengadilan biasa rasanya seperi di sidang di pengadilan akhirat. Antara Tuhan dan hambanya yang berdosa.

"Gak guna kamu jadi anak Informatika!"

"Gak guna kamu jadi anak Informatika!"

"Gak guna kamu jadi anak Informatika!"

Kalimat-kalimat itu terus terngiang-terngiang di kepalaku.

Aku diam selama beberapa detik gatau apa yang harus dilakukan. Akhirnya muncullah sebuah gagasan sesat. Ketika kau tidak bisa menangani suatu hal maka jawablah dengan yang namanya "tertawa garing".

"Iya pak, maaf ini kesalahan saya yang cukup fatal hehehe," disusul dengan tawa garing di belakangnya.

"Makanya lain kali kalau ngerjain apapun harus teliti. Ini, saya kembalikan." jawabnya sambil menyodorkan suratku yang sudah ditanda tangani olehnya.

"Terima kasih pak."

Kesannya emang terlihat bodoh ketika dihardik kau hanya bisa membalasnya dengan tawa. Tapi jangan salah, tawa tersebut saat itu juga sedang memendam kebencian bersamanya.

"GAK GUNA KAMU JADI MAHASISWA INFORMATIKA". Apakah kalimat tersebut sebuah jokes, pertanyaan, atau juga essai. Yang pasti aku tau, itu adalah kalimat yang keluar dari mulut seorang pendidik yang katanya ucapannya adalah berkah. Untung salah spasi, kalau salah nulis gelar mungkin udah dicabut nyawaku.

Karena perkataannya, aku merasa gagal menjadi anak informatika gak guna lagi rasanya kuliah. Karena cuman salah spasi, masa depanku terancam jadi suram. Jadi kalau seandainya kalian ngelihat gelandangan yang ada di pinggir jalan, coba tanya kenapa dia bisa jadi gelandangan, pasti jawabannya karena dulu pas mau minta tanda tangan salah spasi nama dosen dan bisa jadi gelandangan itu kalau gak aku ya teman-temanku.

SALAH SPASI BISA MENGANCAM MASA DEPANMU WAHAI SAUDARA-SUDARAKU SEKALIAN. Berhati-hatilah. Kau bisa dibuatnya merasa tak berguna, merasa bodoh, dan masa depan jadi berantakan. Bahkan salah spasi nama dosen dampaknya lebih buruk dari pemakaian narkoba. Maka berhati-hati lah kalau masa depanmu tak mau suram.

Ini juga alasan kenapa aku gak betah untuk berlama-lama berada di kampus. Bagiku, tempat ini adalah tempat yang ideal untuk belajar namun juga tempat yang asing. Aku tak bebas, semuanya ada aturan berbeda dengan kamar kecilku di kosan. Di dalamnya aku bisa teriak sepuasnya, menjadi diriku tanpa harus terikat aturan.

Sebenarnya di perkuliahan  itu gampang kalau hanya mau dapat nilai tinggi tapi males belajar. Apalagi kalau mau kehidupan kuliahnya lancar-lancar aja tanpa hambatan. Gausah repot-repot belajar tiap hari, cukup bisa aja ngisi soal yang akan diujikan. Asal jadi penjilat, mendekati semua dosen, mengekori kemana pun dia melangkah jadilah kau anjing peliharaannya. Menjilat pantat tuannya hanya demi sebuah nilai yang katanya bisa membantumu gampang mendapat pekerjaan.

Btw, paragraf yang terakhir itu pesan moral.

Ayo, bersama Rizali kita bergerak melawan Dajjal!
Previous
Next Post »

instagram