Kenapa Aku Berhenti Menulis?


Bagi kalian yang dari dulu sampe sekarang atau yang baru sekarang sering baca-baca tulisan di blog ini (kalau ada) mungkin kalian sadar kalau produktifitasku mulai menurun.

Untuk bulan januari aku hanya menulis dua tulisan. Februari juga dua tulisan. Jadi kalau ditotal jumlahnya empat. Padahal aku punya jadwal kalau setiap bulan harus nulis minimal 4-6 kali. Tapi begitulah caranya manusia bekerja. Meskipun sudah ku tempel di dinding, di layar laptop, deadline-deadline menulis tersebut tetap saja, aku sebagai manusia lalai dibuatnya.

Sebelumnya aku mau kasih tau, kalau selama ini aku lagi gak sibuk. Gak lagi ngurus anak dan gak lagi nyusun skripsi. Aku berdoa semoga entar skripsiku jadi sendiri tanpa harus kubuat dan masalah anak, sampai saat ini belum terpikirkan karena aku sekarang hanya seorang mahasiswa tingkat tiga.

Selama bulan Janurari--sampai sekarang, aku lagi sibuk mengerjakan beberapa hal: Menulis, Nyari pacar, dan Nyari pacar lagi. Nyari pacar soalnya susah apalagi pas kau kuliah. Biar aku jelaskan terlebih dahulu:

Menulis

Selama beberapa bulan ini aku emang lagi sibuk menulis. Tapi menulis dalam konteks yang berbeda. Kalau biasanya aku nulis buat dijaddin draft biar nanti langsung di upload ke  blog, kali ini masih sama, masih nulis draft tetapi inshaAllah nantinya draft ini mau di cetak jadi buku. Aku rasa udah tiba waktunya bagiku menulis buku. Biar bukan hanya kalian saja yang bisa membaca tulisan-tulisanku, tapi orang lain juga. Semakin banyak orang yang baca buku-ku nanti maka semakin bagus! Biar aku cepat kaya! Biar bisa naik haji.

Aku merasa ketika kau menulis untuk hal yang serius seperti buku misalnya, itu hal yang sulit. Serius, menulis buku gak segampang yang kalian kira dan gak segampang seperti saat kalian membacanya. Dulu aku sering baca buku yang isinya gak bagus, tulisannya jelek, pasti penulisnya gak pandai nulis. Sekarang hal itu terjadi padaku. Menulis itu susah. Banyak pengorbanannya. 

Itu salah satu alasan kenapa sampai saat ini aku berhenti (sejenak) menulis.

Selanjutnya itu karena.. 

Cari pacar

Gak cuman menulis yang susah, nyari pacar juga susah apalagi jika kau seorang mahasiswa perantauan. Pacar emang sulit dapetinnya, serius. Banyak faktor yang menjadi hambatan dan yang paling sulit yang saat ini aku rasakan adalah: CINTA BEDA AGAMA.

Belakangan ini aku lagi suka dengan seorang adek kelas. Aku angkatan 2015, Dia angkatan 2016. Kami berdua juga beda jurusan. Kalau beda jurusan itu tak masalah, yang jadi masalahnya bukan cuman jurusan yang beda, tapi agama kami juga berbeda. Aku penganut agama Islam sedangkan Dia penganut agama Zhahbhghzga (Sengaja aku ganti namanya takut yang lain nanti tersinggung). Sulit banget nyari alasan yang tepat untuk pacarin dia.

Soalnya sekarang ini Indonesia sedang sulit. Agama jadi konten untuk memecah bela semua orang. Banyak orang-orang di luar sana yang sudah menjadi Tuhan sehingga penganut agama lain menurut mereka pantas dimusnahkan.

Ini juga yang buat aku takut. Aku takut ditolak karena agamaku berbeda dengannya begitu juga sebaliknya. Dia takut menerimaku karena agama kami tak sama. Cinta itu rumit butuh pengorbanan. Maka dari itu salah satu dari kami harus ada yang berkorban. Sayangnya agama bukan untuk dikorbankan.

Aku sedang mengerjakan dua hal sekaligus: mencari pacar dan menulis buku. Dimana keduanya membutuhkan waktu dan usaha. Semoga saja keduanya lancar, Amin.

Tulisan ini sengaja aku buat sebagai jawaban dari kalian yang sibuk bertanya, "Kok berhenti nulis, sih??" Sejujurnya gak ada seorang pun yang nanya, tapi tetap ini kubuat. Jaga-jaga kalau nanti ada yang nanya tinggal kukirim aja tulisan ini. Aku memang orangnya rajin lebih rajin dari orang yang rajin. Jika mereka orang rajin menjawab setelah ada yang bertanya, aku menjawabnya duluan meskipun tak ada yang bertanya. Lebih rajin mana coba? ayo bandingkan! 

Aku memang rajin, aku tau itu. Jika orang rajin menjawab setelah ada yang bertanya, Aku menjawab semuanya sebelum kalian sempat bertanya begitulah cara orang kreatif bekerja. Kreatif dan gila itu memang beda tipis.

Demi kasur dan bantal yang tiap malam kita gunakan, mari berubah!-Rizali Rusydan
Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
adin dilla
AUTHOR
Saturday, 10 March, 2018 delete

Saya baru mampir euy. Oh jadi lagi bikin buku. Kabarin kalo sudah jadi, siapa tahu saya bisa bantu promosikan. Saya doakan juga supaya lancar.

Soal pacar beda agama, mending jangan dilanjutkan. Hehehe. Rumit banget perjuangannya kalo bicara perbedaan agama (katanya).

Reply
avatar
Saturday, 10 March, 2018 delete

hahaha iya mas makasih doanya

Reply
avatar
Saturday, 10 March, 2018 delete

tak usah lah kaw dek pakai pacar-pacar tu. kuliah yang bener dulu. Semua ada saatnya. semua ada saatnya.

Reply
avatar
Monday, 12 March, 2018 delete

wahh nulis buku.. jadi tidak sabar nunggu bukunya terbit.

pacaran beda agama? mending gak usah pacaran deh. sekedar suka mah yah dinikmati saja masanya, nanti juga hilang dengan sendirinya.

Reply
avatar
Monday, 19 March, 2018 delete

siap makasih mbak sarannya!

Reply
avatar