Ada Apa Hari Ini?


Aku jatuh cinta kepada sebuah kehidupan dimana hari-hariku penuh perjalanan. Melarikan diri, melupakan semua masalah, sambil terus melangkah. Meninggalkan semua masalahku di belakang sedangkan aku sibuk berjalan menatap lurus ke depan kepada sebuah tujuan yang tak akan pernah bisa sampai dalam waktu dekat.

Mungkin udah hampir sebulan lamanya aku nggak nambah tulisan baru di blog ini. Seperti di postingan yang sebelumnya, “Kepadamu” aku lagi sibuk menulis buku pertamaku. Mungkin udah tiba waktunya bagiku untuk mulai menulis buku pertama. Karena aku nggak punya banyak waktu lagi karena udah disuruh cepat-cepat lulus dan orang tua udah berkali-kali nanya berapa nilai IPK. 24 jam sehari rasanya masih belum cukup, ah, andai saja sehari itu ada 30 jam.

Sebenarnya aku bingung mau nulis apalagi. Banyak hal yang mau disampaikan, tapi bingung harus mulai darimana. Karena itu, ditulisan kali ini, aku hanya pengen cerita/review tentang kilas balik apa aja yang sudah terjadi selama beberapa bulan belakangan ini. Oke, kita mulai!

Setelah aku selesai nulis “Kenapa Aku Berhenti Menulis” sebenarnya aku memang pengen benar-benar berhenti nulis di blog ini. Aku mau fokus untuk nyelesain draft buku pertamaku dulu. Tapi, pas tadi siang iseng buka-buka blog, rasanya jadi agak nostalgia. Aku baru sadar kalau udah sebanyak ini tulisan yang aku tulis. Aku sudah menulis cukup lama ternyata.

Beberapa minggu setelah menulis tulisan tersebut, kebetulan organisasi mahasiswa yang aku ikuti di kampus mengadakan sebuah acara namanya “Campcer: Camping Ceria”. Acaranya berlokasi di sebuah pinggir pantai yang ada di Lampung.

Satu hari sebelumnya, aku juga punya kegiatan lain. Beberapa temanku mengajakku untuk main-main ke Jakarta untuk mengikuti sebuah festival yaitu “Indofest 2018”. Festival yang dilaksanakan untuk pameran alat-alat gunung. Kebetulan, karena ada beberapa perlengkapan gunung yang ingin kubeli, mumpung ada festival juga, aku mengiyakan ajakan tersebut dan malamnya kita langsung berangkat ke Jakarta.

Aku nggak pernah merasa sesenang ini kalau harus pergi ke Jakarta. Bagiku Jakarta sama saja dengan kota lainnya. Namun malam ini berbeda, ada perasaan lega.

Perjalanan ke Jakarta ini bisa dibilang sebagai perjalananku dalam melarikan diri. Malam itu aku melepas semua tanggung jawabku, rasa cemas, cinta dan semua hal yang memberatkanku. Semoga saja angin malam dan jalan aspal ini bisa membantu melebur semua perasaan tersebut.

Kita hanya punya waku satu hari di Jakarta. Malamnya kami udah harus balik ke Lampung dan bersiap-siap untuk hadir di acara camping ceria. Karena barang yang dicari sudah terbeli, maka dari itu kami langsung bergegas untuk pulang. Dengan keadaan badan yang lelah, kita pun akhirnya bertolak pulang menuju Lampung.

Dalam beberapa jam kemudian, aku sudah berada di pinggiran pantai tempat acara camping ceria dilaksanakan. Tepat waktu. Akhirnya aku bisa datang ke acara ini.

Selama mengikuti acara ini, bagiku camping ceria ini biasa saja, tidak ada hal spesial di dalamnya. Satu-satunya pengalaman yang aku ingat adalah ketika kakiku nggak sengaja tersengat bulu babi. Emang dasar bulu babi berani-beraninya jadi bulu, malah bulunya bisa nyengat lagi, sakit lagi kalau keinjak.

Harusnya yang namanya bulu itu lembut, ini sebaliknya malah beracun. Seharusnya bulu babi merasa malu karena tidak seperti bulu-bulu lembut lainnya, misalnya: bulu kucing. Daripada diberi nama bulu babi lebih baik kalau dia kita namakan, “bulu beracun” karena bulunya emang beracun dan kalau dilihat-lihat memang nggak ada mirip-miripnya sama sekali sama babi. Mungkin dia babi murtad yang nggak diakuin oleh keluarga babi. Emang dasar bulu babi!

Itu pertama kalinya bagiku menginjak bulu babi. Sehabis tersengat aku langsung buru-buru balik berenang ke tepi. Ketika sampai di tepi, aku melihat salah satu temanku yang lagi kesakitan karena hal yang sama. Biar nggak kelihatan cemen, aku pura-pura kelihatan kuat, tetap tenang, padahal dalam hati, “BANGSAT PERIH BANGET.”

Ada rumor yang bilang ketika menginjak bulu babi, kita harus mengencingi daerah kaki yang kena sengat tersebut. Melihat kami berdua disengat bulu babi, salah satu temanku dengan baik hati menawarkan jasa mengencingi kaki kami berdua dengan air kencingnya. Dengan senang hati dan tanpa perasaan bersalah dia menawarkan hal tersebut. Pertannyaanya, mana ada orang yang rela kakinya dikencingin orang lain karena kena bulu babi?

Tapi santai, tersengat bulu babi nggak sesakit jatuh cinta kok :)) Dia bakal sembuh sendiri tanpa harus ada hubungan yang diakhiri.

Entah kenapa minggu-minggu ini organisasi yang aku ikuti punya banyak acara. Beberapa hari setelah acara camping ceria, ada acara pelantikan anggota. Saat itu aku ditunjuk sebagai penjaga pos yang tugasnya menginterogasi anggota yang akan dilantik. Sialnya, entah kenapa hal bodoh selalu terjadi padaku disaat-saat yang penting. Aku kehilangan kunci motor saat itu.

Kegiatan dilaksanakan di sekitar wilayah kampus termasuk: lapangan basket, taman, dan lapangan volley. Aku menjaga pos yang ada di sekitar taman yang wilayahnya diisi semak belukar rerumputan. Aku yakin kunci motornya hilang di sekitar semak-semak tersebut. Aku mencari dan terus mencari tapi tetap nggak ketemu.

Aku udah hampir menyerah dan akhirnya aku meminta bantuan ke salah satu teman untuk ikut nyari kunci tersebut. Ketika kutanyain untuk aku minta bantuannya, dia tanya, “Serius kunci motornya hilang?”

“Iya, serius.”

“Kos bisa?” tanyanya.

“Mungkin jatuh dari kantongku.”

“Jatuhnya dimana?” tanyanya lagi.

“KALAU AKU TAU KUNCINYA JATUHNYA DIMANA ITU NAMANYA BUKAN HILANG, ITU NAMANYA KULETAKKIN!”

Dua hari setelah acara pelantikan selesai, masuk waktunya untuk Ujian Akhir Semester. 

Entah kenapa belakangan ini rasanya padat jadwal banget. Dan belakangan ini aku ngerasa kalau hidupku udah seperti naik Roller Coaster. Maju-naik-berlalu—berpacu dengan waktu. Dua minggu yang lalu kita mendaki Gunung bersama. Minggu depannya kita berangkat ke Jakarta dan besoknya ikut camping ceria. Dua hari setelahnya ikut acara pelantikan dan juga dua hari setelahnya udah masuk waktu ujian. Kaki melangkah, nafas tersengal, tapi kini saatnya bagi kita untuk pulang. Belajar karena besok udah ujian. Coba aja sebulan ada seribu hari. Sehari ada 30 jam. Pasti jadi nggak terlalu sibuk.

Begitulah hari-hari penuh kesibukan yang sudah terjadi dalam beberapa bulan ini. Hanya saat menulis tulisan ini sajalah aku baru bisa santai. Duduk sambil dengar lagu, makan rendang, minum jus, baca buku, berpuasa, membayar zakat, dan naik haji kalau udah mampu.

Ah, dasar waktu, kau memang musuh bersama kami Manusia!
Latest
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
fardi harahap
AUTHOR
Thursday, 31 May, 2018 delete

Mantappp ..

Untuk pernyataan terakhir ..Waktu bagai pedang, lalai kau binasa. Lihai kau bahagia :)

Reply
avatar